Geng Motor Makassar Kian Brutal, Saatnya Pemkot, Aparat dan Warga Bergerak Bersama

OPINI – Ditulis Oleh : Barly
METROMAKASSAR.com, Makassar – Maraknya aksi brutal geng motor di Kota Makassar belakangan ini bukan lagi sekadar kenakalan remaja biasa.
Fenomena ini sudah menjadi persoalan sosial yang menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat, terutama ketika korbannya adalah anak-anak dan remaja yang masih duduk di bangku sekolah.

Kasus penyerangan di Jalan Abu Bakar Lambogo (Ablam) yang menyebabkan seorang remaja berusia 13 tahun mengalami luka serius menjadi alarm keras bagi semua pihak.
Kota Makassar yang dikenal sebagai kota besar dengan aktivitas masyarakat yang hidup hingga malam hari tentu membutuhkan rasa aman bagi seluruh warganya.
Dibutuhkan Pendekatan Secara Menyeluruh, Berkelanjutan, dan Ruang Berekspresi.
“Pemerintah Kota Makassar bersama aparat keamanan sebenarnya memiliki peran penting untuk menekan fenomena ini. Namun penanganannya tidak cukup hanya lewat patroli atau penangkapan semata. Dibutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan.” Ujar Barly dalam sebuah diskusi disebuah coffee di Jalan Hertasning Makassar.
Menurutnya, “Pemkot bisa mulai dengan memperkuat ruang aktivitas positif bagi anak muda. Banyak remaja yang akhirnya terlibat geng motor karena kehilangan ruang berekspresi, kurang pengawasan, hingga lingkungan pergaulan yang salah.” Lanjutnya.
Ia mencontohkan. Seperti Program kepemudaan, olahraga Tradisional di malam hari, komunitas kreatif, hingga pelatihan skill anak muda perlu diperbanyak dan benar-benar aktif menyentuh wilayah rawan.
Penegakan Hukum Oleh Aparat Dan Keterlibatan Peran Keluarga Serta Masyarakat
Di sisi lain, aparat kepolisian juga perlu meningkatkan patroli rutin pada jam-jam rawan, khususnya tengah malam hingga dini hari. Kehadiran polisi di titik-titik yang sering menjadi lokasi nongkrong geng motor dapat memberikan efek pencegahan yang kuat.
Penegakan hukum juga harus tegas terhadap pelaku kekerasan yang membawa senjata tajam dan membahayakan warga.
Sambil tersenyum lebar Barly mencontohkan,
“Era tahun 80 an dan tahun 90 an, pada jam jam tertentu kami sudah tidak berani lagi nongkrong di pinggir jalan. Kami pasti membubarkan diri dan masuk kerumah masing – masing, persoalannya Patroli Garnisun dari aparat tentara pasti lewat.
Dan itu sangat efektif pada jaman itu.” Ceritanya sambil tertawa lepas.

Namun persoalan ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah dan aparat. Peran keluarga dan masyarakat justru menjadi fondasi utama.
Orang tua perlu lebih peduli terhadap aktivitas anak-anaknya, terutama ketika keluar rumah pada malam hari. Komunikasi dalam keluarga menjadi sangat penting agar anak tidak mencari pelarian di lingkungan yang salah.
Membangun Kembali Budaya Kebersamaan, dan Menciptakan Sistem Pengawasan Sosial Yang Lebih Kuat
Warga juga bisa ikut berkontribusi dengan membangun kembali budaya saling menjaga lingkungan. Pos ronda, patroli warga, hingga komunikasi aktif antar RT dan RW dapat membantu menciptakan sistem pengawasan sosial yang lebih kuat.
Fenomena geng motor pada akhirnya bukan hanya tentang kriminalitas jalanan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah kota menjaga generasi mudanya agar tidak tumbuh dalam lingkungan kekerasan.
Makassar membutuhkan kerja sama semua pihak agar jalanan kembali aman dan masyarakat bisa beraktivitas tanpa rasa takut.
Karena kota yang maju bukan hanya tentang pembangunan fisik dan gemerlap perkotaan, tetapi juga tentang seberapa aman warganya merasa saat berada di jalan.
