PariwisataSulsel

MEMANDANG INDONESIA DARI TIMUR: Di Antara Debu Tambang dan Hutan Purba Latimojong

Perjalanan Makassar – Luwu – Enrekang, Sulawesi Selatan | 8–15 Agustus 2026

METROMAKASSAR.COM – Delapan hari. Itu waktu yang kami habiskan untuk menembus sisi timur Pegunungan Latimojong yang jarang tersentuh. Sebuah perjalanan bernama “Memandang Indonesia dari Timur” oleh Tim Ekspeditor OPAB GEMPA Makassar

bukan sekadar upaya menaklukkan empat puncak—Katapu, Bubun Dirangkang, Nenemori, dan Rante Mario. ” cerita Asfar dengan nada serius

” Ini adalah sebuah dialog sunyi antara manusia, alam liar, dan realitas keras yang tersembunyi di balik keindahan pegunungan tertinggi di Sulawesi Selatan ini.” Ujar Asfar Konstributor Opab Gemba Makassar yang mengawal tim Pendakian.

Babak Pertama: Bayang-Bayang di Pintu Rimba

Sebelum hutan menyambut kami dengan pelukan dedaunan, alam justru menampakkan wajah lain yang mencekam. Perjalanan menuju Pintu Rimba adalah ujian pertama yang menguji nyali sekaligus kesabaran.

Ayah ALE adalah ibarat kompas hidup dalam perjalan. Ia adalah seorang warga Belopa Luwu, yang selalu memberi petunjuk dan arahan . Ayah ALE juga sebagai inisiator , pengarah jalur dan sebagai perintis jalur timur.

Jalan setapak yang seharusnya menjadi jalur spiritual pendaki, kali ini harus berbagi ruang dengan deru mesin berat. Kiri kanan jalan adalah luka terbuka; aktivitas eksploitasi pertambangan membentang luas, seolah mengingatkan kami bahwa di balik kemegahan Latimojong, ada pertarungan kepentingan yang tak henti.

Kami berpapasan dengan kendaraan tambang, merasakan getaran tanah yang berbeda, dan hidup dalam ketidakpastian.

Dua portal penjagaan TNI menjadi gerbang pembatas. Di sinilah rasa tidak nyaman itu memuncak. Dokumentasi perjalanan—yang biasanya menjadi napas bagi seorang pendaki—harus kami korbankan demi keamanan.

Rasa “diawasi” dan diikuti kendaraan asing membuat setiap langkah terasa berat, bukan karena tanjakan, tapi karena beban psikologis. Jalur timur Latimojong, ternyata, belum sepenuhnya ramah bagi mereka yang hanya ingin mencari kedamaian. Akses dan perizinan masih menjadi tembok tebal yang memisahkan mimpi petualang dengan realitas pengelolaan kawasan

Babak Kedua: Hutan Rapat dan Ujian Kehausan

Namun, begitu kami berhasil melewati zona konflik itu, Latimojong menunjukkan sisi aslinya yang memukau sekaligus menghukum. Hutan rapat menyambut seperti benteng purba yang menjaga rahasianya. Tanjakan panjang, medan licin, dan lumpur yang menyedot energi memaksa kami untuk benar-benar hadir di setiap langkah.

Tantangan terbesar bukanlah ketinggian, melainkan haus. Sumber air adalah barang mewah yang langka di jalur ini. Setiap tetes air yang tersisa di botol dihitung dengan cermat, dibagi dengan adil, dan dijaga seperti emas. Di titik terlelah inilah, ikatan antar anggota tim ditempa. Tawa renyah di tengah kelelahan, tangan yang saling menarik saat tergelincir, dan cerita-cerita receh di bivak menjadi bahan bakar yang lebih kuat daripada kalori makanan.

Kami belajar bahwa di alam liar, solidaritas adalah mata uang yang paling berharga.

Empat puncak pun kami lalui satu per satu. Katapu, Bubun Dirangkang, Nenemori, hingga Rante Mario. Masing-masing punya karakter, masing-masing punya cerita perjuangan yang tertanam di otot dan ingatan. Tidak ada puncak yang mudah, tapi setiap kesulitan selalu membayar lunas dengan pemandangan yang tak tergantikan.

Babak Ketiga: Lebih Dari Sekadar Puncak

Perjalanan delapan hari ini mengajarkan kami satu hal fundamental: mendaki bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai atap dunia. Mendaki adalah tentang kemampuan membaca alam, menghormati masyarakat lokal, memahami kompleksitas kawasan, dan pulang dengan kesadaran yang utuh.

Kami menemukan paradoks di Latimojong. Di satu sisi, ada vegetasi alami yang masih perawan dan bentang alam yang luar biasa megah. Di sisi lain, ada jejak eksploitasi dan tantangan akses yang menuntut solusi bijak.

Jalur timur ini menyimpan potensi besar, namun ia juga rapuh. Ia butuh lebih dari sekadar semangat petualang; ia butuh komunikasi, koordinasi, dan tanggung jawab bersama antara pendaki, pengelola tambang, pemerintah, dan masyarakat.

Epilog: Cerita yang Kami Bawa Pulang

Kini, perjalanan telah usai. Delapan hari yang terjal, melelahkan, dingin, dan penuh kekurangan air telah berlalu. Namun, apa yang kami bawa pulang jauh lebih berat dan berharga daripada ransel di punggung.

Kami datang untuk memandang Indonesia dari timur. Kami pulang membawa pengalaman, catatan kritis, dan kesadaran baru.

Bahwa di balik keindahan Pegunungan Latimojong, tersimpan cerita tentang alam, manusia, sumber daya, perjuangan, dan masa depan yang masih harus kita perjuangkan bersama.

Empat puncak telah kami lalui.
Jalur timur telah kami rasakan.
Dan cerita ini… akan terus berjalan.