PariwisataSulsel

Menelusuri Jejak 42 Tahun di Hutan Karst Karaenta: Ketika Alam Maros Tetap Setia Menanti Pulang

Ditulis Oleh : Barly RM : Direktur Metro Persada Nusantara

Kharisma Indonesia: Wadah Kesetiaan yang Tak Pernah Pudar

METROMAKASSAR.COM, Makassar – Ada tempat di mana waktu seolah berhenti berputar. Di Cagar Alam Karaenta, Maros, Sulawesi Selatan, hutan karst seluas 1.000 hektar itu tidak sekadar menjadi bagian dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Ia adalah saksi bisu, sekaligus rumah kedua bagi generasi pecinta alam yang telah menua bersama tebing-tebing kapurnya.

Terletak 26 km dari Makassar dan 11 km dari Kota Turikale, kawasan ini menyimpan lebih dari sekadar keindahan geologis. Ia menyimpan memori tentang bagaimana sekelompok anak muda Makassar belajar mencintai alam sejak tahun 1984.

Mengenang Masa Lalu: Sekolah Alam Pertama di Maros

Bagi Effendy Rahmat, Bayu Arjuna Sakti, M Iqbal Amin, Udin Ahmad, Asmin Amin, M Jalil, Ahmat Sawedi, hingga Anto Kettol, Karaenta bukan sekadar destinasi wisata. Tempat ini adalah “kampus” pertama mereka dalam dunia petualangan.

“Sejak 1984 kami sering ke sini. Di sinilah kami belajar memanjat tebing, memasuki goa, menelusuri sungai bebatuan,” kenang Effendy saat berkunjung kembali beberapa waktu lalu. Suaranya terdengar lembut, seolah membawa pendengar kembali ke era ketika peralatan panjat masih sederhana dan semangat kebersamaan jauh lebih tebal daripada teknologi.

Empat puluh dua tahun telah berlalu. Namun, Karaenta tetap sama. Tebing-tebingnya masih tegak, sungainya masih mengalir di antara bebatuan, dan angin malamnya masih berhembus dengan cara yang sama persis seperti dulu. Ia setia menanti orang-orang yang pernah bercengkrama di atasnya, seolah berkata: “Kalian boleh pergi, tapi aku akan selalu ada saat kalian pulang.”

Kharisma Indonesia: Wadah Kesetiaan yang Tak Pernah Pudar

Kisah Karaenta tak bisa dipisahkan dari Kharisma Indonesia. Organisasi serikat cinta alam yang telah berdiri 45 tahun di Makassar ini bukan sekadar klub hobi. Ia adalah keluarga besar yang menjadikan Karaenta sebagai laboratorium kehidupan.

Di sanalah mereka belajar arti ketekunan. Belajar bahwa alam tidak pernah menjanjikan kemudahan, tetapi selalu memberikan pelajaran tentang kesetiaan. Seperti tanah Karaenta yang selalu menerima kedatangan mereka kembali, tanpa syarat dan tanpa pamrih.

Bayu Arjuna Sakti, kini Ketua Federasi Arung Jeram Indonesia (FaJI) Sulsel, menegaskan bahwa Karaenta tetap menjadi daya tarik abadi. Bukan hanya untuk latihan rock climbing atau susur goa, tapi juga sebagai ruang refleksi bagi siapa pun yang rindu pada kesederhanaan.

Pesan dari Hutan Karst: Tentang Waktu dan Kepulangan

Cerita tentang Karaenta dan Kharisma Indonesia mengajarkan kita satu hal penting: di tengah dunia yang berubah begitu cepat, ada nilai-nilai yang justru bertahan karena ia tidak berubah. Kesetiaan pada alam, persahabatan yang terjalin di atas tebing, dan kerinduan untuk kembali ke tempat di mana jiwa merasa paling utuh.

Mungkin itulah mengapa, meski empat dekade telah berlalu, nama-nama seperti Effendy, Bayu, Iqbal, Udin, Asmin, Jalil, Sawedi, dan Anto masih terukir erat dalam ingatan kolektif pecinta alam Makassar. Mereka bukan sekadar mantan anggota organisasi. Mereka adalah bagian dari instrumen alam Karaenta itu sendiri.

Dan suatu hari nanti, ketika generasi baru datang mendirikan tenda di tepi sungai bebatuan itu, mereka mungkin akan merasakan hal yang sama: bahwa alam ini memang dirancang untuk menyambut kepulangan, bukan sekadar kunjungan. (*)

Oplus_16908288