MakassarSulsel

Antrian SPBU, dan Pasrahnya Warga Makassar Hadapi Pemadaman Bergilir

METROMAKASSAR.COM, Tamalate– Malam itu, Kota Makassar tidak bersinar seperti biasanya. Lampu-lampu jalan yang seharusnya menjadi penanda denyut nadi kota metropolitan ini, justru tenggelam dalam kegelapan pekat.

Di balik ketiadaan arus listrik, terdengar dengung mesin generator darurat yang berpacu dengan deru keluhan warga.

Ini adalah potret nyata seminggu terakhir, sejak PLN resmi menerapkan pemadaman bergilir di hampir seluruh lapisan wilayah Kota Makassar.

Langkah kontroversial ini bukanlah tanpa alasan. PLN mengambil kebijakan keras tersebut akibat dampak serius dari kemarau panjang yang melanda Sulawesi Selatan tahun ini.

Debit air di beberapa waduk dan sumber mata air utama penyuplai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) menyusut drastis. Kondisi ini memaksa pembangkit listrik bekerja ekstra keras untuk menutupi defisit energi, namun beban pemakaian masyarakat yang terus meningkat membuat sistem kelistrikan berada di titik kritis.

Akibatnya, pemadaman bergilir menjadi “obat pahit” yang harus ditelan demi menjaga kestabilan jaringan secara keseluruhan.

Dampaknya terasa hingga ke ruang-ruang paling intim kehidupan warga, mulai dari dapur warung makan hingga lorong-lorong sempit permukiman.

Keluh Kesah Dapur Warung di Jalan Abdul Kadir

Bagi para pelaku usaha mikro, khususnya pemilik warung makan, waktu adalah uang. Namun, ketika listrik padam di pagi hari, waktu seolah berhenti bergerak. Di Jalan Abdul Kadir, suasana pagi yang seharusnya riuh dengan aktivitas persiapan dagangan, berubah menjadi canggung.

Awak media menemui Daeng Tarring, seorang pemilik warung “Tunjuk-Tunjuk” yang sedang gelisah melihat jam dinding yang terus berdetak, sementara Blender listriknya mati total. Wajahnya menyiratkan campuran antara protes dan kepasrahan.

“Kami kesulitan, Pak. Kalau listrik mati pas masih pagi, repot sekali ki’,” keluh Daeng Tarring dengan logat Makassar yang kental. Ia menunjuk tumpukan bahan makanan yang belum terolah. “Padahal kami harus mempersiapkan lauk-pauk sebelum tengah hari. Paling lambat pukul 10.30 semua harus siap saji.”

See also  Wali Kota Munafri "Pasang Badan" untuk Pertahankan PPPK, Efisiensi Jalan, Pegawai Tetap Aman

Tanpa blender untuk menghaluskan bumbu atau kulkas untuk menyimpan kesegaran ikan, Daeng Tarring dan rekan-rekan sesama pedagang terpaksa kembali ke cara-cara tradisional yang lebih lambat dan melelahkan.

“Tapi mau mi diapa lagi? Karena sumber air lagi kering, jadi ya begini nasibnya,” ucapnya sambil menghela napas panjang, tanda pasrah terhadap keadaan alam yang tak bisa ditawar.

Lorong Menjadi Taman Bermain, SPBU Macet Total

Sementara di sisi lain kota, tepatnya di Jalan Daeng Tata III, Setapak 3, situasi malam hari menghadirkan pemandangan yang berbeda namun sama-sama mencekam.

Sejak pukul 17.00 WITA, kawasan ini lumpuh total. Baru pada pukul 24.00 WITA, lampu-lampu rumah kembali menyala, mengakhiri tujuh jam kegelapan.

Ketiadaan listrik memaksa warga keluar dari rumah. Lorong-lorong yang biasanya sepi setelah maghrib, mendadak ramai oleh ibu-ibu rumah tangga yang kepanasan karena kipas angin tak berputar, serta anak-anak muda yang sibuk mencari colokan umum atau berbagi power bank agar ponsel mereka tetap hidup.

Namun, dampak paling visual terjadi di arteri utama nearby. Antrian kendaraan di sekitar SPBU Jalan Daeng Tata, Jalan Rappocini terlihat mengular panjang.

Di tengah hiruk-pikuk antrian BBM dan gelapnya lorong perumahan, anak-anak kecil justru menemukan “hiburan” yang ironis. Karena tidak bisa belajar atau menonton televisi di dalam rumah, mereka turun ke jalan.

Lorong Setapak 3 berubah menjadi arena bermain dadakan. Tertawa riang mereka terdengar hingga larut malam, sebuah kontras yang tajam dengan kecemasan orang tua mereka yang memikirkan tagihan listrik, stok bahan bakar, dan kapan normalitas akan kembali.

Pemadaman bergilir ini mungkin hanya solusi teknis jangka pendek bagi PLN, namun bagi warga Makassar, ini adalah ujian ketahanan sosial yang menuntut adaptasi, kesabaran, dan solidaritas di tengah gelapnya malam.

See also  Hadapi Antrean BBM, Pemkot Makassar Terapkan Belajar Daring untuk PAUD hingga SMP Mulai Hari Ini