Euforia HUT RI ke-81: Diskusi di Dalam Air Laut pun, PILAH SAMPAH Tetap Seksi Untuk Dibahas!”


METROMAKASSAR.COM – Tanjung Merdeka – Jelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81, atmosfer nasionalisme tidak hanya terasa di lapangan upacara, melainkan membanjiri setiap jengkal tanah Makassar.
Libur panjang menjadi momentum emas bagi warga kota untuk menumpahkan kerinduan akan alam, mulai dari sejuknya kaki pengunungan Bawakaraeng, lembah Lohe, Ramma, Bulu Baria, hingga deburan ombak di pesisir Pantai Biru Tanjung Merdeka.

Namun, cerita paling menyita hati terjadi pada Sabtu pagi hingga Minggu, 16 Agustus 2026. Pantai Biru Tanjung Merdeka bukan sekadar tempat berenang; ia berubah menjadi panggung raksasa perayaan kemerdekaan. Bibir pantai disesaki ratusan pengunjung, menciptakansebuah aktivitas yang berbaur dengan birunya laut.
Kemeriahan mencapai puncaknya ketika sejumlah komunitas menggelar perlombaan khas Agustusan. Lautan merah putih terlihat memesona; para laki-laki gagah dalam balutan kostum merah, sementara perempuan anggun dalam serba putih.

Di dalam air, anak-anak dan orang tua berenang dengan “Semangat 45”, seolah menolak menyerah pada lelah, merayakan kebebasan dengan cara mereka sendiri.
Diskusi Hangat di Tepi Pantai: Aspirasi Rakyat yang Tak Terduga
Di tengah riuh rendah tawa dan cipratan air, sebuah adegan unik unfold di bibir pantai. Sekelompok pria paruh baya tampak serius berdiskusi, layaknya tim investigasi dadakan dari Dinas Pariwisata. Mereka bukan sedang membicarakan politik praktis, melainkan nasib fasilitas pemandian yang mereka cintai.
“Seharusnya UMKM harus hadir di sini! Mendirikan booth untuk aneka makanan dan minuman,” ucap Om Frans, warga setempat yang tinggal tak jauh dari lokasi, dengan nada tegas namun penuh harap.
Obrolan itu mengalir deras, membahas segala hal mulai dari tata kelola parkir hingga penataan pedagang. Namun, satu prinsip ditegaskan dengan lantang oleh Daeng Zul, “Tapi yang terpenting, pelaku UMKM di sini haruslah warga sekitar.

Dan harganya? Tidak boleh lebih mahal dibanding luar!” Kalimat itu langsung diamini serempak, menjadi manifesto kecil rakyat sekitar yang menginginkan pariwisata yang memberdayakan, bukan sekadar mengeruk keuntungan.
Tawa renyah sesekali memecah keseriusan diskusi tersebut. Yang membuat momen ini begitu magis adalah fakta bahwa mereka sebenarnya baru saja saling mengenal. Ikatan persaudaraan terbentuk instan demi cinta terhadap tanah kelahiran.
Bahkan ketika mereka beranjak masuk ke dalam air, obrolan tentang masa depan Pantai Biru tetap berlanjut, tenggelam bersama tubuh mereka namun tidak pernah padam semangatnya.
Pilah Sampah: Topik ‘Seksi’ di Tengah Ombak
Lalu, datanglah momen yang paling tak terduga dan sekaligus paling mengharukan. Faizal, warga asal Sudiang, tiba-tiba melempar topik tentang PILAH SAMPAH.
Bukannya hening atau canggung, kelompok itu justru tertawa serempak. Sebuah tawa yang mengandung makna mendalam. Barly RM, salah satu anggota kelompok, mengungkapkan kelucuan sekaligus keprihatinan yang menyentuh, “Yang lucu bagi kami, diskusi di dalam air laut pun, PILAH SAMPAH tetap seksi untuk dibahas!”

Ini adalah simbol kematangan kesadaran lingkungan. Isu kebersihan tidak lagi terjebak di lorong-lorong sempit, kantor pemerintahan, atau obrolan warung kopi.
Ia telah merasuk ke dalam jiwa, bahkan dibicarakan dengan santai di tengah gulungan ombak kemerdekaan. Bagi mereka, menjaga kebersihan pantai adalah bentuk nyata cinta tanah air.
Saat matahari beranjak tinggi dan panas mulai menyengat, warga satu per satu mencari perlindungan di bawah payung sewa atau gazebo kayu. Namun, hangatnya suasana HUT RI ke-81 di Pantai Biru Tanjung Merdeka takkan pernah pudar.
Di sana, di antara pasir dan air asin, tersimpan cerita tentang rakyat biasa yang luar biasa: merayakan kemerdekaan bukan hanya dengan sorak-sorai, tapi dengan harapan, kebersamaan, dan tanggung jawab terhadap bumi pertiwi.
