Ketika Hal Kecil Diabaikan, Puncak Hanya Tinggal Waktu
Ditulis Oleh: Barly RM
METROMAKASSAR – Di Makassar, kita tidak kekurangan cerita tentang orang-orang yang berhasil naik ke puncak—baik di pemerintahan, organisasi, maupun dunia usaha.
Dengan kerja keras, jaringan, dan momentum yang tepat, posisi strategis bisa diraih.
Namun yang sering luput dibahas adalah satu hal penting: mengapa sebagian dari mereka tidak bertahan lama di puncak?
Jawabannya sering kali bukan karena tekanan besar atau lawan yang lebih kuat. Justru sebaliknya, kejatuhan itu perlahan dimulai dari hal-hal kecil yang dianggap tidak penting.
Kita bisa melihat pola yang berulang. Ketika seseorang baru berada di posisi bawah, ia begitu disiplin, responsif, dan dekat dengan realitas masyarakat.
Setiap kritik didengar, setiap detail diperhatikan. Namun begitu berada di puncak, sikap itu perlahan berubah. Akses menjadi sulit, komunikasi berjarak, dan keputusan diambil tanpa kepekaan yang sama seperti dulu.
Hal-hal kecil mulai ditinggalkan. Janji-janji kecil yang dulu ditepati kini dianggap tidak mendesak. Etika dalam berkomunikasi mulai longgar. Kehadiran yang dulu konsisten berubah menjadi formalitas.
Bahkan yang lebih mengkhawatirkan, kritik mulai dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai bahan evaluasi.
Di sinilah Masalah Sebenarnya Bermula.
Makassar adalah kota dengan dinamika sosial yang kuat. Masyarakatnya kritis, cepat membaca perubahan, dan tidak mudah lupa.
Makassar Tidak Pernah Lupa
Ketika hal-hal kecil diabaikan, publik sebenarnya mencatat. Mungkin tidak langsung bereaksi, tapi akumulasi kekecewaan itu akan menemukan momentumnya. Dan ketika momentum itu datang, kejatuhan tidak lagi bisa dihindari.
Yang menarik, banyak yang tidak menyadari bahwa mereka sedang turun. Karena tidak ada “ledakan” besar. Tidak ada satu kejadian dramatis yang bisa ditunjuk sebagai penyebab.
Yang ada hanyalah penurunan perlahan—kepercayaan yang mengikis, simpati yang berkurang, dan dukungan yang diam-diam berpindah.
Ini bukan sekadar soal individu, tapi juga soal budaya kepemimpinan. Jika hal-hal kecil terus dianggap remeh, maka yang dibangun bukanlah kekuatan yang kokoh, melainkan citra yang rapuh.
Dan citra, sekuat apa pun dibangun, tidak akan bertahan tanpa fondasi yang dijaga setiap hari.Makassar tidak butuh lebih banyak orang hebat yang cepat naik lalu cepat hilang.
Kota ini butuh mereka yang mampu bertahan—yang tetap menjaga sikap, etika, dan kedekatan, bahkan ketika sudah berada di puncak.
Karena pada akhirnya, yang menjatuhkan seseorang di kota ini bukan hanya kesalahan besar, tetapi justru kebiasaan mengabaikan hal-hal kecil yang dulu mengantarkannya ke atas.(*)
“Tulisan ini bukan untuk menunjuk siapa pun, melainkan menjadi pengingat bagi siapa saja yang sedang atau akan berada di posisi puncak.”