Mengenang Seorang Seniman, Budayawan Guruh Soekarno Putra



Guruh Soekarno Putra: Seni, Tanah, dan Ingatan Ekologis
Mengenang seorang seniman yang mengajarkan bahwa kebudayaan, manusia, dan alam tidak pernah benar-benar terpisah.
Oleh : Mashud Azikin
MAKASSAR – Mengenang seorang seniman yang mengajarkan bahwa kebudayaan, manusia, dan alam tidak pernah benar-benar terpisah Mengenang seorang seniman yang mengajarkan bahwa kebudayaan, manusia, dan alam tidak pernah benar-benar terpisah Ada satu perjumpaan dengan Guruh Soekarno Putra yang kembali hidup dalam ingatan saya setelah kabar kepergiannya.
Pada era 2000-an, di Museum Kota Makassar, saya melihat Guruh datang bukan untuk sebuah pertunjukan besar, melainkan untuk sesuatu yang jauh lebih sederhana: ia ingin melihat lukisan tanah liat karya pelukis Zainal Beta. Kini saya melihat peristiwa itu bukan sekadar kenangan.
Di sana terdapat sebuah tesis tentang Guruh yang mungkin selama ini luput kita baca: seni, kebudayaan, dan ekologi bertemu pada hubungan manusia dengan tempat dari mana kehidupan berasal.

Guruh memang bukan dikenal sebagai aktivis lingkungan. Ia tidak meninggalkan manifesto ekologis sebagaimana para pemikir lingkungan. Tetapi sepanjang perjalanan keseniannya, ia memperlihatkan bahwa manusia tidak pernah hidup di ruang yang kosong.
Musik, tari, tradisi, tubuh, lanskap dan identitas selalu lahir dari suatu tempat.
Dan ketika seorang seniman datang melihat tanah yang diubah menjadi karya seni, seperti yang dilakukan Guruh terhadap lukisan Zainal Beta, kita seperti diingatkan bahwa tanah bukan sekadar material. Ia adalah asal-usul, ruang hidup, memori, dan bagian dari kebudayaan manusia.
Itulah sebabnya kepergian Guruh bagi saya tidak hanya mengundang kita mengenang musik dan tari yang ditinggalkannya. Ia mengajak kita membaca kembali hubungan yang semakin renggang antara manusia, kebudayaan, dan alam.
Di tengah krisis ekologis hari ini, pertanyaan itu menjadi penting: ketika manusia kehilangan hubungan dengan tanah, laut, sungai dan lanskap yang membentuk kehidupannya, bukankah pada saat yang sama ia juga sedang kehilangan sebagian dari kebudayaannya?
Guruh memberi kita pintu untuk memasuki pertanyaan tersebut melalui seni.
Tanah yang menjadi seni
Saya masih mengingat perjumpaan di Museum Kota Makassar itu.
Guruh datang untuk melihat karya Zainal Beta yang menggunakan tanah liat sebagai medium. Ada sesuatu yang menarik dari pilihan objek yang ingin dilihatnya.
Seorang seniman besar yang sepanjang hidupnya bekerja melalui musik, tari dan pertunjukan justru datang mendekati karya yang berasal dari tanah.
Tanah yang biasanya diinjak, ditimbun, dipindahkan, dijual, dibangun di atasnya, atau dieksploitasi, di tangan seniman berubah menjadi bahasa.
Di situlah seni bekerja.
Ia mengubah cara kita melihat sesuatu yang sebelumnya dianggap biasa.
Tanah bukan lagi sekadar tanah.
Ia menjadi cerita.
Ia menjadi bentuk.
Ia menjadi ingatan.

Dan jika kita tarik lebih jauh, tanah adalah fondasi dari hampir seluruh kehidupan kebudayaan manusia. Dari tanah tumbuh pangan. Dari lanskap lahir permukiman. Dari lingkungan berkembang tradisi. Dari tempat tertentu lahir bahasa, makanan, musik, arsitektur, ritual, dan identitas.
Kebudayaan tidak pernah benar-benar tanpa tempat.
Guruh dan Indonesia sebagai lanskap kebudayaan
Guruh sepanjang perjalanan keseniannya tidak pernah melepaskan diri dari Indonesia.
Sebagai putra Soekarno, ia tumbuh dalam lingkungan yang menjadikan kebudayaan bagian penting dari pembicaraan tentang bangsa. Tetapi Guruh kemudian mencari jalannya sendiri melalui musik, tari dan berbagai eksperimen artistik.
Ia mendirikan *Swara Maharddhika, mengembangkan pertunjukan yang mempertemukan musik dan tari, dan terlibat dalam proyek *Guruh Gipsy yang mempertemukan musik progresif dengan unsur musik tradisional Bali.
Jejak itu menunjukkan sesuatu yang penting: Guruh tidak melihat tradisi dan modernitas sebagai musuh.
Ia mempertemukannya.
Tradisi tidak harus menjadi fosil.
Modernitas tidak harus berarti kehilangan akar.
Gagasan itu menjadi semakin relevan ketika kita membicarakan lingkungan.
Sebab persoalan ekologis kita hari ini juga lahir dari keterputusan hubungan.
Kota dipisahkan dari sungainya.
Manusia dipisahkan dari tanah yang menghasilkan makanannya.
Konsumen dipisahkan dari proses produksi.
Sampah dipisahkan dari sumbernya.
Dan pembangunan dipisahkan dari daya dukung ekologis.
Ketika hubungan-hubungan itu putus, alam mudah berubah menjadi objek eksploitasi.
Seni dan kemampuan mengalami dunia
Salah satu karya Guruh yang selalu menarik untuk dibaca kembali adalah “Seni”, yang begitu kuat melalui suara Chrisye.
Karya itu menjadi penting bukan hanya karena musiknya, tetapi karena gagasan yang dikandungnya: seni memiliki kekuatan untuk membawa manusia keluar dari sekadar rutinitas dan mempertemukannya dengan pengalaman yang lebih dalam.
Di sinilah seni memiliki relevansi ekologis.
Kita hidup dalam zaman ketika persoalan lingkungan semakin banyak diterjemahkan menjadi angka.
Tonase sampah.
Luas deforestasi.
Konsentrasi karbon.
Kualitas air.
Kenaikan temperatur.
Semua itu penting untuk membuat kita memahami skala persoalan.
Tetapi angka tidak selalu membuat manusia merasa kehilangan.
Kita dapat mengetahui sungai tercemar tanpa merasa kehilangan sungai.
Kita dapat mengetahui hutan berkurang tanpa membayangkan kehidupan yang ikut hilang.
Kita dapat mengetahui laut dipenuhi sampah tanpa merasakan bahwa masa depan sedang berubah.
Seni bekerja pada wilayah yang berbeda.
Ia membuat persoalan menjadi pengalaman.
Sebuah lagu dapat membuat laut terasa dekat. Sebuah lukisan dapat membuat tanah kembali terlihat. Sebuah tarian dapat membuat kita merasakan hubungan tubuh dengan ruang.
Karena itu, seni tidak harus berbicara tentang lingkungan secara eksplisit untuk memiliki daya ekologis.
Ia cukup membuat manusia kembali melihat dunia sebagai sesuatu yang bernilai.
Krisis ekologis adalah krisis hubungan
Kita sering membicarakan krisis lingkungan sebagai persoalan teknologi.
Bagaimana mengolah sampah? Bagaimana mengurangi emisi? Bagaimana membersihkan sungai? Bagaimana memulihkan hutan?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar:
Mengapa manusia merusak sesuatu yang menjadi syarat kehidupannya sendiri?
Jawabannya tidak hanya berada pada teknologi.
Ia berada pada cara kita memandang alam.
Ketika hutan hanya dipahami sebagai kayu, sungai sebagai saluran, laut sebagai komoditas, dan tanah sebagai aset, maka hubungan manusia dengan alam berubah menjadi hubungan transaksional.
Alam berhenti menjadi rumah.
Ia menjadi objek.
Dan ketika alam menjadi objek, eksploitasi menjadi lebih mudah dibenarkan.
Karena itu, krisis ekologis juga merupakan krisis kebudayaan.
Kita bukan hanya kehilangan ekosistem. Kita kehilangan hubungan dengan tempat-tempat yang membentuk kehidupan kita.
Seniman sebagai penjaga hubungan
Dalam konteks inilah seniman mempunyai peran penting.
Seniman tidak selalu memberi solusi teknis terhadap krisis lingkungan. Tetapi ia dapat menjaga sesuatu yang mendahului solusi: hubungan manusia dengan dunia.
Ketika sebuah lagu membuat seseorang mengingat kampung halaman, hubungan dengan tempat itu tetap hidup.
Ketika sebuah tarian mempertahankan tradisi masyarakat pesisir atau agraris, hubungan dengan lanskap asalnya ikut terawat.
Ketika tanah liat menjadi karya Zainal Beta dan Guruh datang untuk melihatnya, material bumi memperoleh kembali tempatnya dalam kesadaran manusia.
Maka seni dapat menjadi semacam arsip ekologis.
Ia menyimpan bagaimana manusia pernah memandang laut, tanah, hutan, tubuh, kampung dan kehidupannya.
Ketika lingkungan berubah, karya seni menjadi saksi.
Ia menyimpan sesuatu yang mungkin tidak tercatat dalam statistik: rasa kehilangan sebuah tempat.
Makassar: kota yang dibentuk oleh perjumpaan
Menarik bahwa perjumpaan Guruh dengan karya Zainal Beta itu berlangsung di Makassar.
Makassar adalah kota yang identitasnya dibentuk oleh laut dan perjumpaan. Kota pelabuhan ini sejak lama menjadi ruang bertemunya manusia, barang, bahasa, agama, kebudayaan dan gagasan.
Tetapi kota modern menghadirkan paradoks.
Semakin berkembang sebuah kota, semakin besar pula tekanan terhadap ekosistem yang menopangnya.
Sungai menghadapi pencemaran. Pesisir menghadapi tekanan. Sampah menjadi persoalan. Ruang hijau berkompetisi dengan pembangunan.
Karena itu, pembangunan kota tidak cukup hanya berbicara tentang infrastruktur.
Ia juga harus berbicara tentang hubungan manusia dengan tempat.
Kita membutuhkan kota yang tidak hanya dibangun, tetapi juga diingat.
Kota yang sungainya bukan sekadar saluran air.
Pesisirnya bukan sekadar garis ekonomi.
Tanahnya bukan sekadar lahan.
Dan kebudayaannya bukan sekadar pertunjukan seremonial.
Dalam konteks itulah warisan Guruh menjadi relevan.
Ia memperlihatkan bahwa modernitas tidak harus memutus akar.
Dan pembangunan tidak seharusnya memutus hubungan manusia dengan alam.
Dari Guruh menuju masa depan
Guruh telah pergi.
Namun karya-karyanya memberi kita kesempatan untuk bertanya ulang tentang posisi seni di tengah krisis ekologis.
Hari ini kita memiliki teknologi yang semakin canggih: kecerdasan buatan, sensor lingkungan, citra satelit, sistem pengolahan sampah, energi terbarukan, dan berbagai instrumen ilmiah untuk memahami bumi.
Semua itu penting.
Tetapi teknologi memberi kita kemampuan.
Kebudayaan membantu menentukan arah.
Kita dapat mengetahui bagaimana sebuah sungai tercemar. Tetapi kita tetap membutuhkan alasan mengapa sungai itu harus diselamatkan.
Kita dapat menghitung volume sampah. Tetapi kita tetap harus memutuskan apakah sampah hanya akan menjadi beban atau bagian dari siklus baru.
Kita dapat memetakan kerusakan pesisir. Tetapi kita harus memahami bahwa pesisir bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan tempat kehidupan dan ingatan masyarakat.
Ilmu menjelaskan bagaimana ekosistem bekerja.
Seni membantu manusia mengalami apa yang hilang ketika ekosistem itu rusak.
Di situlah Guruh menjadi relevan.
Bukan karena ia harus dipaksakan menjadi tokoh lingkungan, tetapi karena pemikirannya tentang seni membuka jalan untuk membaca kembali hubungan manusia dengan alam.
Sebuah perjumpaan yang menjadi warisan
Kini saya kembali kepada perjumpaan di Museum Kota Makassar itu.
Guruh datang untuk melihat karya Zainal Beta.
Mungkin saat itu ia hanya ingin melihat sebuah lukisan.
Tetapi bertahun-tahun kemudian, peristiwa sederhana itu menjadi semacam metafora bagi saya.
Seorang maestro datang melihat tanah yang telah menjadi seni.
Ada pertemuan antara manusia dan material bumi.
Antara kebudayaan nasional dan ekspresi lokal.
Antara Jakarta dan Makassar.
Antara musik dan lukisan.
Dan, tanpa direncanakan, antara seni dan ekologi.
Dari tanah kita belajar bahwa kehidupan memiliki akar.
Dari musik kita belajar mendengar.
Dari tari kita belajar bergerak.
Dari lukisan kita belajar melihat.
Dan dari Guruh kita belajar bahwa kebudayaan tidak pernah benar-benar terpisah dari tempat manusia hidup.
Itulah sebabnya mengenang Guruh Soekarno Putra hari ini bukan hanya tentang merawat nama seorang maestro.
Ia juga tentang merawat pertanyaan yang lebih besar:
Jika manusia kehilangan hubungan dengan tanah, air, laut, hutan dan lanskap yang membentuk kebudayaannya, apa yang tersisa dari kebudayaan itu sendiri?
Barangkali inilah percakapan yang masih dapat kita lanjutkan dari warisan Guruh.
Bahwa merawat kebudayaan dan merawat bumi bukan dua pekerjaan yang sepenuhnya berbeda.
Keduanya berangkat dari kesediaan manusia untuk menghargai tempat dari mana kehidupan berasal dan ruang tempat kehidupan diwariskan.
Selamat jalan, Guruh Soekarno Putra.
Engkau telah meninggalkan musik, tari, pertunjukan, gagasan dan ingatan.
Dan bagi saya, engkau juga meninggalkan satu gambar yang sederhana tetapi kini terasa kuat: seorang seniman berdiri di Museum Kota Makassar, menatap tanah yang telah diubah menjadi karya.
Mungkin dari sanalah kita perlu memulai kembali.
Melihat.
Mendengar.
Mengingat.
Lalu merawat.
