Makassar

Skill vs Ijazah: Dalam Bingkai Pembangunan Kota Makassar

Ditulis oleh: Barly

Metro Makassar – Di tengah geliat pembangunan Kota Makassar yang semakin dinamis, satu pertanyaan mendasar terus mengemuka: mana yang lebih dibutuhkan—skill atau ijazah? Pertanyaan ini bukan sekadar wacana klasik, melainkan realitas yang dihadapi generasi muda, pelaku usaha, hingga pengambil kebijakan di kota ini.

ANTARA KEBUTUHAN INDUSTRI DAN SUMBER DAYA MANUSIA

Makassar hari ini tumbuh sebagai kota metropolitan di kawasan timur Indonesia. Infrastruktur berkembang, investasi masuk, dan peluang kerja terbuka. Namun di balik itu, terdapat kesenjangan antara kebutuhan industri dengan kualitas sumber daya manusia.

Di sinilah perdebatan antara skill dan ijazah menjadi relevan. Di satu sisi, ijazah masih menjadi “tiket masuk” dalam banyak sektor formal. Ia dianggap sebagai bukti legitimasi akademik, simbol bahwa seseorang telah melalui proses pendidikan yang terstruktur.

Dalam birokrasi pemerintahan dan sejumlah perusahaan besar, ijazah tetap menjadi syarat administratif yang sulit ditawar. Ini memberikan kepastian standar, tetapi seringkali mengabaikan kemampuan riil di lapangan.

KETERAMPILAN PRAKTIS DENGAN SEKEDAR GELAR

Di sisi lain, dunia kerja kini bergerak lebih cepat daripada sistem pendidikan. Banyak sektor—terutama

  • Ekonomi kreatif
  • Digital
  • UMKM

lebih membutuhkan keterampilan praktis daripada sekadar gelar. Seorang programmer, desainer, konten kreator, bahkan pelaku usaha kecil, bisa sukses tanpa latar belakang pendidikan formal yang tinggi, selama mereka memiliki skill yang relevan dan adaptif.

PENDEKATAN BERBASIS KREATIFITAS MENDORONG EKONOMI LOKAL

Kekuatan pendekatan berbasis skill terletak pada fleksibilitas dan kecepatan. Anak muda Makassar yang mampu menguasai teknologi, berinovasi, dan membaca peluang pasar akan lebih mudah bertahan dalam kompetisi. Ini menjadi modal penting dalam mendorong ekonomi lokal yang berbasis kreativitas.

Namun, pendekatan ini juga memiliki kelemahan. Tanpa fondasi pendidikan yang kuat, banyak individu kesulitan berkembang secara berkelanjutan.

Skill yang tidak didukung oleh pemahaman teoritis dan etika profesional bisa membuat seseorang cepat naik, tetapi juga cepat jatuh.

Selain itu, tidak semua sektor bisa hanya mengandalkan skill tanpa pendidikan formal, terutama bidang-bidang strategis seperti kesehatan, hukum, dan teknik.

Sebaliknya, ketergantungan berlebihan pada ijazah juga menjadi masalah.

FENOMENA “PENGANGGURAN TERDIDIK”

Banyak lulusan perguruan tinggi di Makassar yang kesulitan mendapatkan pekerjaan karena tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Ini menciptakan fenomena “pengangguran terdidik”—sebuah ironi di tengah semangat pembangunan.

PENGEMBANGAN SKILL DALAM BINGKAI PENDIDIKAN FORMAL

Maka, membenturkan skill dan ijazah sebenarnya adalah cara pandang yang keliru. Kota Makassar tidak membutuhkan perdebatan yang saling meniadakan, melainkan sinergi yang saling menguatkan. Pendidikan formal harus mulai berorientasi pada pengembangan keterampilan praktis, sementara pengembangan skill harus tetap dibingkai dalam nilai-nilai pendidikan yang kuat.

Pemerintah kota, dunia pendidikan, dan sektor swasta perlu duduk bersama merumuskan

  • Ekosistem Yang Lebih Relevan
  • Kurikulum Yang Adaptif
  • Pelatihan Vokasi diperkuat.
  • Ruang Bagi Inovasi Anak Muda diperluas.

Jangan sampai Makassar hanya membangun fisik kota, tetapi mengabaikan kualitas manusianya.

Pada akhirnya, masa depan Makassar tidak ditentukan oleh siapa yang punya ijazah tertinggi atau skill paling canggih, tetapi oleh bagaimana keduanya bisa berjalan beriringan.

Kota ini butuh orang-orang yang tidak hanya pintar di atas kertas, tetapi juga tangguh di lapangan.