Lingkungan HidupPariwisataPetualangan

TEKTOK BAWAKARAENG: 7 Jam Menaklukkan Puncak Tanpa Berkemah

Ditulis Oleh : Adhi Tamalate

metromakassar.com, GOWA – Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Adhi sudah berdiri di pos registrasi Kampung Kanre Apia. Tas daypack kecil tergantung di punggungnya—bukan carrier besar seperti pendaki pada umumnya.

Fajar di Pos Kanreapia: Seni Tektok

Di dalamnya hanya ada air minum, makanan ringan, jaket anti angin, senter kepala, dan kotak P3K minimalis. Ini bukan pendakian biasa. Ini adalah tektok—sebuah tren baru di kalangan pendaki muda Makassar yang ingin merasakan sensasi puncak tanpa harus menginap berhari-hari di gunung.

“Tektok itu seni,” kata Adhi sambil meregangkan otot-otot kakinya. “Naik turun dalam satu hari. Nggak ada tenda, nggak ada kompor portabel, cuma kamu, alam, dan waktu yang terus berjalan.”

Strategi Ringan: Efisiensi di Atas Beban

Gunung Bawakaraeng, dengan ketinggian 2.830 mdpl, menjadi pilihan sempurna untuk tantangan ini. Via Kanreapia dikenal sebagai jalur tercepat menuju puncak, dengan estimasi waktu naik sekitar 4 jam dan turun 3 jam. Total perjalanan? Sekitar 7 jam bolak-balik. Singkat, intens, dan menguras tenaga.

Adhi memulai langkah pertamanya saat jarum jam menunjukkan pukul 05.30 WITA. Udara pagi masih segar, kabut tipis menyelimuti hutan pinus yang menjulang tinggi.

Jalur awal relatif landai, melewati perkebunan warga dan ladang-ladang yang mulai ditinggalkan. Namun jangan tertipu—ini hanyalah pemanasan sebelum tanjakan sesungguhnya dimulai.

“Yang paling penting di tektok itu manajemen energi, kalau kamu bawa carrier berat 15-20 kg, badanmu bakal cepat habis. Makanya kita cuma bawa daypack 5-7 kg. Efisien banget.” jelas Adhi .

Tanjakan Curam: Ujian Stamina dan Fokus

Memasuki jam kedua, tanjakan mulai menanjak. Jalur, menuntut konsentrasi penuh setiap langkah. Adhi melewati beberapa pendaki yang sedang mengikuti Open Trip.

See also  Membersihkan Jejak di Air Terjun Merdeka: Aksi Nyata Metro Persada Nusantara Menjaga Keasrian Tompo'bulu Maros

Mereka membawa carrier besar—mereka tampak bergerak lebih lambat, langkah mereka berat oleh beban logistik berkemah.

Adi tersenyum kecil. Inilah keunggulan tektok: kecepatan dan kelincahan.

Namun, kecepatan datang dengan harga. Tubuh harus bekerja ekstra keras untuk naik dan turun dalam waktu singkat.

Tidak ada jeda untuk istirahat panjang, tidak ada kemewahan duduk santai di depan tenda sambil menikmati sunset. Semua serba cepat, serba tepat waktu.

“Pendakian tektok itu bukan untuk semua orang,” peringatan Adhi serius. “Kamu butuh fisik prima, stamina bagus, dan persiapan matang. Kalau nekat tanpa latihan, badanmu bakal kolaps di tengah jalan. Apalagi buat yang usianya sudah lanjut—sangat berisiko.”

Zona Kritis: Manajemen Energi dan Logistik

Jam ketiga menandai titik kritis. Napas Adhi mulai memburu, keringat bercucuran deras meski udara pegunungan cukup dingin.

Tapi dia tahu persis kapan harus berhenti sejenak untuk minum dan makan snack bar. Manajemen logistik adalah kunci survival di tektok. Air harus cukup, kalori harus terjaga, dan tubuh harus terus bergerak.

Pukul 09.30 WITA, setelah 4 jam perjuangan, Adhi akhirnya mencapai puncak Bawakaraeng. Pemandangan dari atas luar biasa—lautan awan membentang di bawah kaki, hamparan hijau Sulawesi Selatan terlihat jelas di kejauhan.

Tapi euforia ini hanya berlangsung singkat. Adhi hanya punya waktu sekitar 30 menit di puncak sebelum harus segera turun. Ingat, total waktu hanya 7 jam, dan matahari akan terbenam sebelum pukul 18.00.

Euforia Singkat di Puncak: Waktu Adalah Musuh

“Jangan terlalu lama di puncak,” nasihat Adhi. “Waktu adalah musuh utama di tektok. Kalau kamu kelamaan, nanti turunnya bisa-bisa gelap dan berbahaya.”

Proses turun dimulai pukul 10.00 WITA. Turun ternyata sama melelahkannya dengan naik. Lutut menerima tekanan berulang-ulang, otot betis bekerja keras menahan laju gravitasi.

See also  HUT RI ke-81 di Gunung Bawakaraeng: 3.786 Pendaki Merayakan Kemerdekaan di Atas Awan, Basarnas Evakuasi 26 Orang Akibat Hipotermia

Adhi menggunakan teknik zigzag untuk mengurangi dampak pada sendi, sambil tetap menjaga ritme napas.

Sepanjang perjalanan turun, Adhi melewati beberapa kelompok pendaki yang baru mulai naik. Mereka memandang heran pada Adhi yang sudah turun sementara mereka masih berjuang naik.

“Itulah bedanya tektok sama pendakian konvensional,” kata Adhi sambil melambaikan tangan. “Kami datang, kami taklukkan, kami pulang. Semuanya dalam satu hari.”

Turun dengan Disiplin: Melawan Gravitasi

Pukul 13.00 WITA, setelah 3 jam turun, Adhi kembali ke pos registrasi Kanreapia. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, kaki gemetar karena kelelahan, tapi senyum kepuasan terukir di wajahnya. Dalam waktu kurang dari 8 jam, dia telah menaklukkan salah satu puncak tertinggi di Sulawesi Selatan—tanpa tenda, tanpa api unggun, tanpa menginap.

“Tektok itu tentang efisiensi dan disiplin,” refleksi Adhi sambil melepas sepatu hikingnya. “Kamu belajar menghargai waktu, mengelola energi, dan memahami batas kemampuan tubuhmu.

Ini bukan sekadar mendaki, ini adalah ujian mental dan fisik dalam format yang sangat terkompresi.”

Refleksi Sang Penektek: Filosofi Kecepatan

Bagi generasi muda Makassar yang memiliki waktu libur terbatas namun haus akan petualangan, tektok Bawakaraeng via Kanreapia menawarkan solusi sempurna.

Dalam satu hari penuh, mereka bisa merasakan sensasi puncak, menikmati pemandangan spektakuler, dan kembali ke kota sebelum malam tiba.

Tapi ingat pesan Adhi: “Jangan remehkan risiko. Persiapan fisik minimal 2-3 bulan sebelum tektok.

Latihan kardio, strength training, dan simulasi pendakian pendek. Bawa perlengkapan darurat meskipun nggak menginap.

Dan yang paling penting—dengarkan tubuhmu. Kalau merasa nggak kuat, jangan dipaksa. Gunung akan selalu ada besok.”

Tektok Bawakaraeng bukan sekadar tren. Ini adalah filosofi baru dalam mendaki: cepat, efisien, dan penuh makna.

See also  World Clean Up Day: Appi Tegaskan Sampah Makassar Harus Jadi Berkah Ekonomi

Bagi Adhi dan ratusan pendaki muda lainnya, ini adalah cara mereka merayakan kebebasan, menguji batas diri, dan menemukan kedamaian di antara hiruk-pikuk kehidupan kota.

Bagi para penektek, gunung bukan tempat untuk diam. Gunung adalah arena untuk bergerak, berlari melawan waktu, dan membuktikan bahwa dalam keterbatasan, kita justru bisa menemukan kekuatan terbesar.

Checklist Tektok Bawakaraeng untuk Pemula

Waktu Start: Dini hari (05.00-06.00 WITA)
Beban Maksimal: Daypack 5-7 kg (No Carrier!)
Logistik Wajib: Air min. 2 liter, high-energy snacks, jaket anti angin, senter kepala, P3K.
Persiapan Fisik: Latihan kardio & strength training minimal 2 bulan.
Estimasi Waktu: 4 jam naik, 3 jam turun (Total ~7 jam aktif).
Target Usia: 18-35 tahun dengan kondisi fisik prima.

Peringatan: Hindari jika memiliki riwayat jantung/paru-paru atau tanpa persiapan matang.