Opini

Esensi Abunawas Versi Modern: Di Balik Kemeja Lusuh Ketika “Orang Kecil” Menjadi Otak Besar Istana

Opini Oleh : Mashud Azikin

METROMAKASSAR.COM, Makassar- Ada orang yang masuk ke istana melalui pintu utama. Jasnya licin, sepatunya mengilap, gelarnya berderet seperti pagar kehormatan. Ada pula yang masuk melalui pintu samping—bahkan kadang tidak tahu apakah dirinya sedang masuk istana atau gudang arsip.

Kekuasaan Sering mempunyai Kelemahan

Kemejanya tidak selalu mengandung wibawa. Celananya tidak selalu mengenal setrika. Dan namanya tidak pernah cukup panjang untuk membuat orang buru-buru berdiri ketika ia memasuki ruangan.
Tetapi anehnya, ketika istana sedang kebingungan, pikirannya justru sering dicari.

Suatu malam, setelah sebuah krisis publik berhasil diredam berkat sebuah saran singkat darinya, Gubernur mengirim pesan WhatsApp.

“Pak Abu, kenapa Bapak selalu bisa melihat apa yang tidak dilihat orang lain?”
Pertanyaan itu sebenarnya dalam untuk dijawab.

Sebab dalam birokrasi, orang yang bisa melihat terlalu jauh kadang lebih mencemaskan daripada orang yang tidak bisa melihat sama sekali.

Pak Abu hanya tersenyum tipis.
Barangkali ia tersenyum karena tahu bahwa pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban akademik. Ia juga mungkin tersenyum karena sudah terlalu lama mengamati manusia: bagaimana orang berkuasa bisa kehilangan akal karena pujian, dan bagaimana orang biasa justru sering memperoleh akal karena tidak memiliki apa-apa untuk dipertahankan.

Lalu jawabnya:
“Karena saya tidak punya jabatan yang harus dijaga, Pak Gubernur. Saya tidak punya reputasi akademik yang harus dipertahankan.

Saya tidak punya ambisi politik yang harus dicapai.
Mata saya jernih karena tidak silau oleh cahaya lampu sorot.

Telinga saya tajam karena tidak tuli oleh pujian.
Dan hati saya tenang karena saya tidak takut kehilangan apa-apa.”

Jawaban itu terdengar sederhana.
Tetapi justru di situlah letak kekuatannya.

Sebab kalimat seperti itu bisa membuat banyak pejabat kehilangan tidur.

Abunawas dahulu tidak melawan kekuasaan dengan pidato panjang.
Ia menggunakan akal

Ia tidak selalu datang membawa pedang. Kadang ia datang membawa kebodohan yang pura-pura. Kadang menunggang keledai. Kadang mengenakan pakaian yang membuat orang istana menganggapnya tidak berbahaya.

Padahal justru di situlah tipuannya.
Kekuasaan sering mempunyai kelemahan yang sama sejak zaman kerajaan sampai zaman pemerintah daerah: ia terlalu mudah tertipu oleh penampilan.

Orang berseragam dianggap pintar.
Orang bergelar dianggap benar.
Orang berjabatan dianggap penting.
Orang yang sering masuk televisi dianggap punya solusi.

Sedangkan orang yang duduk diam di pojok ruangan dianggap sekadar pelengkap furnitur demokrasi.
Abunawas versi modern memahami satu hukum sederhana:

Kesetiaan Kepada Akal Sehat

ketika semua orang berlomba terlihat pintar, orang yang memilih diam justru memiliki kesempatan lebih besar untuk berpikir.

Pak Abu barangkali bukan Abunawas yang menunggang keledai.
Ia menunggangi sesuatu yang lebih modern: pengalaman, kegelisahan rakyat, jalanan, percakapan warung kopi, dan kemampuan membaca celah di antara laporan-laporan resmi.
Ia tidak membaca masalah hanya dari tabel.


Ia membaca wajah.
Ia tidak hanya mendengar rapat.
Ia mendengar keresahan.
Ia tidak terpaku pada apa yang tertulis dalam laporan.

Ia memperhatikan apa yang sengaja tidak ditulis.

Dan di situlah ilmu politik yang paling tua bekerja: memahami manusia sebelum memahami angka.

Kekuasaan mempunyai satu penyakit bawaan: confirmation bias.
Ia cenderung mencari orang yang mengatakan bahwa keputusannya benar.
Maka lahirlah ruang-ruang rapat yang indah.

Semua kepala mengangguk. Semua slide berwarna. Semua indikator hijau. Semua target “on track”.
Semua masalah “sedang dalam proses”.

Kemudian masyarakat pulang membawa masalah yang sama.
Itulah paradoks birokrasi modern:

semakin banyak orang pintar di dalam ruangan, semakin sulit kadang menemukan orang yang berani mengatakan bahwa raja sebenarnya tidak memakai baju.

Pak Abu memilih posisi yang lebih berbahaya.
Ia tidak datang untuk menyenangkan kekuasaan. Ia datang untuk membuat kekuasaan tidak salah membaca kenyataan. Ini bukan oposisi. Bukan pula loyalitas buta.

Ini semacam kesetiaan yang lebih tua daripada politik: kesetiaan kepada akal sehat.

Dalam tradisi filsafat, kebijaksanaan tidak selalu lahir dari universitas.
Socrates justru terkenal karena mengakui ketidaktahuannya.
Ia tidak membawa gelar profesor.Tidak memiliki akun media sosial dengan centang biru.
Tidak mempunyai tim komunikasi.

Namun ia mengganggu Athena dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana.

“Benarkah?”
“Untuk siapa?”
“Dari mana kita tahu?”

Socratic Dalam Versi Kampung

Tiga pertanyaan yang sederhana itu sudah cukup untuk membuat banyak teori ambruk.
Barangkali Pak Abu memiliki semacam naluri Socratic dalam versi kampung: tidak banyak teori, tetapi rajin bertanya kepada kenyataan.

Mengapa begini?
Siapa yang terdampak?
Apa yang tidak kita lihat?
Apa yang terjadi setelah kebijakan diumumkan?

Pertanyaan terakhir sering menjadi pembeda antara kebijakan yang hidup dan kebijakan yang hanya bagus dalam konferensi pers.

Sebab kebijakan publik bukan lomba membuat kalimat paling indah.
Ia adalah seni memastikan bahwa keputusan pemerintah tidak menjadi masalah baru bagi masyarakat.
Ada ironi lain.

Orang seperti Pak Abu justru mungkin paling berguna bagi istana karena ia tidak terlalu membutuhkan istana.
Ia tidak mengejar kursi.Maka ia tidak takut kehilangan kursi.

Ia tidak mengejar jabatan.
Maka ia bebas mengkritik jabatan.

Ia tidak bergantung pada tepuk tangan.
Maka ia tidak perlu mengatur kalimat agar terdengar menyenangkan.

Dalam politik, kebebasan semacam itu adalah kemewahan.
Bahkan mungkin lebih mahal daripada jabatan.

Sebab seseorang yang tidak punya kepentingan untuk dipertahankan mempunyai satu senjata yang sangat ditakuti kekuasaan: kemampuan berkata jujur tanpa menghitung siapa yang akan tersinggung.

Itulah sebabnya kadang seorang “orang kecil” dapat menjadi penasihat yang jauh lebih berguna daripada sepuluh orang yang setiap hari duduk mengelilingi meja kekuasaan.

Bukan karena ia lebih hebat.
Melainkan karena ia tidak sibuk mempertahankan citra kehebatan.
Di zaman ketika semua orang ingin menjadi influencer, Pak Abu memilih menjadi observer.

Ketika orang sibuk membangun personal branding, ia sibuk membaca keadaan.
Ketika sebagian orang menghitung berapa kali namanya disebut, ia menghitung berapa banyak masalah yang belum selesai.

Abunawas Versi Modern.

Bukan menjadi badut di hadapan raja.
Melainkan menjadi manusia yang cukup waras untuk mengatakan kepada raja bahwa ia sedang salah arah—tanpa perlu membenci raja, dan tanpa berharap menggantikan tempatnya.

Abunawas tidak selalu menyelamatkan kerajaan dengan kekuatan.

Ia menyelamatkannya dengan membuat kekuasaan melihat dirinya sendiri dari luar cermin istana.

Pak Abu pun demikian.
Ia tidak perlu duduk di kursi kekuasaan untuk memengaruhi arah keputusan.

Kadang sebuah WhatsApp pendek lebih kuat daripada satu ruang rapat penuh manusia yang terlalu sibuk mengangguk.
Mungkin karena itu, pertanyaan Gubernur malam itu sebenarnya mempunyai jawaban yang lebih panjang.

Mengapa Pak Abu bisa melihat apa yang tidak dilihat orang lain?
Karena ia berdiri sedikit di luar lingkaran.
Dan orang yang berdiri di luar lingkaran sering kali justru dapat melihat bentuk lingkaran dengan lebih jelas.

Di dalam istana, semua orang sibuk melihat siapa yang duduk di kursi.
Di luar istana, orang seperti Pak Abu melihat siapa yang berdiri menunggu.
Di dalam ruang rapat, orang sibuk membaca angka.
Di luar, rakyat sedang mengalami akibatnya.
Di dalam kamera, semuanya tampak terkendali.
Di jalan, kenyataan kadang tidak seindah siaran pers.

Maka jangan buru-buru meremehkan lelaki dengan kemeja lusuh yang duduk diam di sudut ruangan.

Bisa jadi ia bukan tidak punya kekuasaan.
Ia hanya tidak merasa perlu memamerkannya.

Dan dalam sejarah kekuasaan, orang yang tidak membutuhkan kekuasaan sering kali merupakan orang yang paling bebas mengoreksi kekuasaan.

Itulah esensi Abunawas versi modern:
tidak perlu menjadi raja untuk menyelamatkan kerajaan.

Kadang cukup menjadi orang biasa yang matanya tidak silau, telinganya tidak tuli, dan hatinya tidak sedang sibuk menghitung apa yang akan ia dapatkan.

Sebab ketika seluruh istana sibuk mencari siapa yang harus disalahkan, seorang Abunawas modern mungkin hanya tersenyum, membuka WhatsApp, lalu mengetik:


“Pak Gubernur, masalahnya bukan pada apa yang Bapak lihat. Masalahnya adalah apa yang tidak Bapak lihat.”
Lalu ia kembali diam.

Sebab begitulah cara orang kecil sesekali mengajari istana cara menjadi besar.(bly)