Makassar

DARI MESIN TIK KE WEBSITE: Sosok Gen X Berbagi Kisah Adaptasi & Estetika kepada Mahasiswa DKV UNM Makassar

METROMAKASSAR.com – Sebuah diskusi lintas generasi yang hangat dan mendalam terjadi antara seorang praktisi kreatif Generasi X (Gen X) dengan sekelompok mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Makassar (UNM). Jumat, 7/8/2026

Diskusi ini tidak hanya membahas teknis desain, tetapi juga menelusuri jejak perjalanan karir dari era analog hingga dominasi digital, menegaskan bahwa fondasi seni tetap menjadi kunci utama meski alat berubah.

Dalam sesi yang berlangsung akrab tersebut, Barly RM berbagi pengalaman pribadinya yang unik: bagaimana ia memulai karir di era di mana setiap huruf harus diketik dengan presisi di atas mesin tik, hingga kini mampu mengelola identitas visual dan konten di platform website modern.

Belajar Disiplin dari Era Analog

“Zaman dulu, kami belajar disiplin dari keterbatasan. Di mesin tik, satu kesalahan ketik bisa berarti mengulang seluruh halaman. Itu mengajarkan kami tentang ketelitian, rasa hormat terhadap karya, dan pentingnya layout manual sebelum mengenal software,” ungkap Barly RM saat berbagi cerita.

Ia lahir di tahun 1967. Bagi banyak anak muda zaman sekarang (Gen Z atau Gen Beta), angka itu mungkin terdengar seperti “zaman purba”. Dan memang, bagi Barly, masa muda adalah era di mana teknologi belum menjadi tuan, melainkan sahabat yang harus diperjuangkan.

“Saya memulai pada tahun 1985, bukan di depan layar komputer canggih, melainkan di hadapan sebuah mesin tik mekanik yang berat dan berisik.” Ceritanya sambil tersenyum seperti mengenang sesuatu.

“dari menulis cerpen di Anita Cemerlang, sebagai Ilustrator hingga merambah pekerjaan sebagai pelukis foster film, itu sangat sangat jauh dari era seperti ini. Hari ini, kita hidup di era di mana Artificial Intelligence (AI) bisa membuat gambar dalam hitungan detik dan menulis artikel dalam sekejap.

Banyak yang takut tersaingi. Banyak yang merasa skill manual sudah usang. “Saya ingin berbagi satu hal: Teknologi hanyalah alat. Jiwa dari karya tetaplah manusia.

Pengalaman transisi inilah yang menjadi inti diskusi. Para mahasiswa diajak memahami bahwa teknologi—mulai dari fotografi, ilustrasi digital, hingga manajemen website—hanyalah alat evolusi. Tanpa pemahaman mendalam tentang rupa dasar, tipografi, dan estetika visual, karya digital cenderung kehilangan “jiwa” dan karakter.

Relevansi Fundamental Seni di Era Digital

Tipografi & Copywriting: Dari tata letak cetak yang kaku menuju hierarki teks yang dinamis di layar web.

Visual & Branding: Bagaimana sketsa tangan dan rupa dasar menjadi fondasi kuat untuk menciptakan identitas merek yang konsisten di media interaktif.

Adaptasi Teknologi: Pentingnya menguasai desain web dan animasi tanpa meninggalkan kaidah-kaidah keindahan yang sudah ada sejak lama.

Mahasiswa DKV UNM tampak antusias menyimak, menyadari bahwa sosok Gen X ini adalah bukti nyata bahwa adaptasi terhadap digitalisasi tidak berarti membuang akar tradisi seni. Justru, kedalaman pemahaman pada dasar-dasar seni membuat karya digital yang dihasilkan memiliki bobot dan nilai estetika yang lebih matang.

Jembatan Antara Generasi

Bagi para mahasiswa, pertemuan ini bukan sekadar kuliah tamu, melainkan inspirasi untuk tetap memegang teguh fundamental seni di tengah gempuran tren instan.

“Melihat perjalanan Om Barly itu membuka mata kami. Ternyata, kemampuan mengelola Advertising, website atau desain digital yang bagus itu berawal dari kebiasaan baik dan dasar seni yang kuat sejak lama. Ini memotivasi kami untuk tidak hanya jago software, tapi juga jago ‘melihat‘ dan ‘merasa’,” ujar Ara mahasiswa UNM.

Diskusi ini diharapkan menjadi pemantik bagi mahasiswa DKV UNM untuk terus menggali akar seni mereka sambil melek teknologi, melahirkan kreator-kreator yang tidak hanya canggih secara teknis, tetapi juga kaya secara filosofi dan estetika dan Buadaya.