BudayaMakassarPariwisata

Memburu Jejak Waktu di Pasar Loak Jalan Veteran Makassar

metromakassar

MAKASSAR – Fajar belum sepenuhnya merekah, sisa-sisa dingin malam Minggu, 27 September 2026, masih menggelayut di udara Makassar.

Namun, di sepanjang Jalan Veteran Utara, denyut nadi kota mulai berdetak lewat sebuah ritual purba: Pasar Loak.

pasar loak jalan veteran utara

Di bawah temaram lampu jalan, pria tua berkeriput hingga pemuda, beserta para ibu, mulai membentangkan tikar dan menata barang-barang mereka di pinggiran jalan dan pelataran pertokoan yang masih tutup.

Ini bukan sekadar berdagang; ini adalah warisan, sebuah tradisi turun-temurun yang mengakar kuat dalam DNA masyarakat Makassar.

Ritual Pagi dan Pelestari Waktu

Bagi warga Kota Daeng, hari Minggu adalah hari ziarah ke masa lalu. Pasar Loak Veteran berubah menjadi ladang berburu bagi mereka yang rindu pada masa yang telah berlalu.

Ada sensasi tersendiri, sebuah getaran emosional, saat jari-jari tangan menyentuh debu di atas barang-barang yang telah termakan usia.

Di sinilah letak keistimewaan budaya Makassar: mereka tidak melihat barang bekas sebagai sampah, melainkan sebagai memori yang patut dihargai dan dilestarikan.

Deretan tape recorder tua yang pernah memutar lagu-lagu era perjuangan, tumpukan kaset pita tahun 80-an, kepingan uang koin yang dingin, bilah keris yang menyimpan misteri, hingga sepeda ontel yang rodanya seolah membawa kita mundur ke abad sebelumnya.

pasar loak veteran - metromakassar

Semua ditawarkan di pinggir jalan dengan narasi sejarah yang tak tertulis.

Ziarah Memori dan Seni Berburu di Pasar Loak

Ketika matahari mulai menghangatkan punggung, lautan manusia tumpah ruah. Mereka datang dari segala penjuru Makassar, bahkan ada yang rela menempuh perjalanan jauh dari Kabupaten Maros.

Hiruk-pikuk tawar-menawar pun menjadi musik latar yang menghidupkan jalanan.

Di tengah keramaian itu, berdiri Kemal. Pria paruh baya dari Maros ini sengaja datang lebih pagi demi memburu sebuah alat spesifik yang ia butuhkan.

See also  Open Recruitment Angkatan 2026 – Kharisma Indonesia & Sekolah Petualang Kharisma Indonesia

Namun, setelah berkeliling dan menelusuri setiap lapak, raut wajahnya berubah sendu.

“Barang yang saya cari, tidak saya temukan,” gumamnya pelan saat disapa, menyiratkan kekecewaan khas seorang pemburu yang pulang dengan tangan hampa.

Namun, jiwa seorang hunter sejati tak mudah lumpuh. Matanya yang tadinya redup, kembali berbinar saat terhenti pada sebuah sepeda ontel yang terparkir anggun.

Tawar-menawar pun kembali dimulai, membuktikan bahwa di pasar loak, kekecewaan selalu berujung pada kejutan baru.

Ketika Kota Modern Menelan Waktu

Matahari semakin merangkak naik. Asap knalpot dan deru mesin mulai mendominasi Jalan Veteran Utara, menandakan kota modern sedang bersiap menelan waktu. Pasar Loak ini memang fana; ia hanya hidup di celah-celah pagi buta.

Seiring memadatnya lalu lintas dan kembalinya rutinitas warga, para pedagang mulai melipat tikar mereka.

Mereka membawa pulang uang receh dan kenangan, menyisakan trotoar yang kembali sunyi, menunggu Minggu berikutnya untuk kembali menghidupkan mesin waktu di sudut Makassar. (barly)