Lingkungan HidupMakassar

Menggagas Ekonomi Sirkular Makassar: Dari TPA Tamangapa hingga Kebun Kota

Oleh : Mashud Azikin

Makassar – Selama ini, kita terjebak dalam pemahaman keliru bahwa masalah sampah selesai begitu ia tiba di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Padahal, sampah hanya berpindah tempat untuk membusuk, menghasilkan lindi, atau—jika dikelola dengan benar—mendapatkan “kehidupan kedua”.

Di Makassar, gagasan ini mulai diuji di TPA Tamangapa melalui integrasi peternakan sapi dengan pemanfaatan sampah organik pasar sebagai pakan, serta pengolahan kotoran menjadi pupuk.

Gagasan ini sejalan dengan gerakan Tanami Tanata’ (menanami tanah kita) yang digagas Fadly Padi. Keduanya menjawab satu pertanyaan besar: Bisakah kota mengubah sampah menjadi input pangan yang aman, dan mengembalikan pangan tersebut menjadi kehidupan?

Memutus Rantai Linear, Membangun Lingkaran Ekologis

Kota saat ini berjalan dalam ekonomi linear: makanan dikonsumsi, sisa dibuang, peternak membeli pakan mahal, dan petani membeli pupuk mahal.

Alam seharusnya bekerja secara sirkular: sisa pangan menjadi organik, menyuburkan tanah, menumbuhkan tanaman, dan kembali menjadi pangan.

Ranch sapi di Tamangapa menawarkan peluang untuk menyambungkan kembali rantai yang terputus ini. Namun, ini bukan proses otomatis. Sampah bukan mesin ajaib.

Plastik, bahan kimia, patogen, dan residu obat adalah ancaman serius bagi ternak dan keamanan pangan. Oleh karena itu, pemilahan dari sumber, protokol pengolahan, pengujian laboratorium, dan pengawasan ketat adalah harga mati.

Ini adalah “Blue Ocean” ekologis: menciptakan nilai baru dari masalah yang selama ini dipisahkan.

Jangan Meromantisasi Sampah

Ekonomi sirkular tidak boleh dibutakan oleh romantisme. Sampah tercampur bukan sumber daya; sampah organik yang tercemar bukan pakan layak; dan kebun kota tidak otomatis berkelanjutan tanpa standar yang jelas.

Klaim keamanan harus berbasis data, regulasi, dan uji risiko, bukan sekadar asumsi.

  1. Pemerintah Kota: Menetapkan zona percontohan yang menghubungkan pasar, peternak, dan komunitas. Menyediakan fasilitas pemilahan, standar hukum yang jelas, dan menolak material yang tidak terlacak atau tercemar.
  2. Pasar: Menjadi garda terdepan pemilahan. Sisa sayur dan makanan harus dipisahkan dari plastik dan bahan berbahaya. Pangan yang masih layak bisa didonasikan.
  3. Peternak: Harus selektif. Hanya menerima pakan dari pemasok terdaftar dan terpilah. Kotoran ternak juga harus diolah secara sanitasi sebelum menjadi kompos.
  4. Komunitas & Rumah Tangga: Memulai dari skala kecil (lorong, sekolah, rumah ibadah) dengan pemilahan di dapur, pengomposan aman (tanpa baterai, popok, atau minyak jelantah), dan pencatatan yang rapi.

Implementasi harus bertahap. Enam bulan pertama untuk pemetaan dan uji coba terbatas; enam bulan berikutnya untuk ekspansi jika data menunjukkan keamanan dan manfaat ekonomi yang nyata.

Jika terjadi pencemaran atau pelanggaran, aliran material harus segera dihentikan.

Menutup Lingkaran

Masa depan Makassar bukanlah kota yang “bebas sampah” secara utopis, melainkan kota yang meminimalkan pembuangan sumber daya dan mengelola risiko dengan bijak.

Tanami Tanata’ adalah ajakan untuk mengembalikan fungsi ekologis tanah di tengah kota. Ketika sampah yang terkelola kembali menjadi pupuk, dan tanah kembali memberi makan manusia, kita tidak sekadar mengelola sampah.

Kita sedang memulihkan hubungan yang putus antara kota dan alam, dengan fondasi bukti, keselamatan, dan tanggung jawab yang terukur.