MIMPI YANG AKHIRNYA BERLAYAR: Warga KKBP Berlayar di Perahu Pinisi, Terima Kasih Walikota Makassar
Metro Makassar — Pagi itu di Pantai Losari, suasana terasa berbeda. Bukan sekadar riuh wisata biasa, tapi penuh tawa yang hangat dan rasa haru yang sulit disembunyikan.
Puluhan warga dari Kerukunan Keluarga Bassaran Pasadanan (KKBP) perlahan menaiki sebuah kapal pinisi yang bersandar anggun. Kapal itu bukan sekadar transportasi—ia adalah simbol mimpi yang selama ini hanya bisa dilihat dari kejauhan.
Hari itu, mimpi itu menjadi nyata.

DARI DARAT KE LAUT, DARI RINDU KE CERITA
Di atas geladak kapal pinisi, suasana berubah menjadi ruang penuh kenangan. Halal Bihalal dan Family Gathering KKBP Minggu (3/5/2026), bukan lagi sekadar agenda rutin, tapi menjadi pengalaman pertama yang tak terlupakan bagi sebagian besar anggotanya.
Biasanya, mereka hanya menjadikan kapal pinisi sebagai latar foto. Kini, mereka berdiri di atasnya.

Tawa pecah di berbagai sudut. Kamera ponsel tak berhenti merekam. Obrolan santai berubah menjadi cerita panjang tentang kampung halaman di Malua, Enrekang.
Ini bukan sekadar perjalanan laut. Ini perjalanan rasa.
UCAPAN TERIMA KASIH YANG TULUS
Ketua Umum DPP KKBP, AKBP (Purn) Hj. Yusni Asmadi, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya.
“Ini pengalaman pertama dan sangat berkesan bagi kami. Terima kasih kepada Bapak Munafri Arifuddin selaku Walikota Makassar dan Ibu Aliyah Mustika Ilham selaku Wakil Walikota, khususnya melalui Dinas Pariwisata Kota Makassar,” ujarnya penuh haru.
Bagi KKBP, kapal pinisi hari itu bukan sekadar fasilitas wisata. Ia adalah simbol bahwa masyarakat biasa pun berhak merasakan kebahagiaan yang sama.
BUKAN HANYA SILATURAHMI, TAPI ARAH MASA DEPAN
Kehadiran Ketua DPW HIKMA Sulsel, Ir. Muh. Ansar Mangopo, memberi warna lain dalam kegiatan ini.
Menurutnya, KKBP bukan sekadar paguyuban.
“Mereka adalah keluarga besar yang solid. Ke depan, saya harap KKBP juga ikut memikirkan kemajuan kampung halaman,” ujarnya.
Ia bahkan mendorong agar Kecamatan Malua dikembangkan menjadi desa wisata berbasis alam dan budaya—sebuah peluang yang bisa mengangkat ekonomi masyarakat.

DARI KAPAL, LAHIR IDE BESAR
Diskusi spontan pun terjadi di atas kapal.
Dr. Jamaluddin Jahid Haneng, akademisi perencanaan wilayah, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam membangun pariwisata.
Ia menyebut konsep pentahelix:
pemerintah, masyarakat, akademisi, pengusaha, dan media harus berjalan bersama.
“Kalau semua terlibat, pariwisata bisa tumbuh cepat dan berdampak nyata,” tegasnya.
Dari laut, lahir gagasan besar untuk daratan.
SENJA, DOA, DAN KEBERSAMAAN
Menjelang senja, suasana berubah hening.
Langit jingga menggantung di ufuk barat, menjadi latar sempurna bagi momen yang tak akan terulang.
Beberapa mengabadikan, sebagian hanya menikmati.
Saat adzan Magrib berkumandang, seluruh peserta melaksanakan sholat berjamaah di atas kapal. Sebuah momen sederhana, tapi sangat dalam maknanya.
Malam ditutup dengan makan bersama.
Bukan soal hidangan—tapi kebersamaan yang terasa utuh.
PINISI, BUKAN SEKADAR IKON
Kegiatan ini membuktikan satu hal:
Kapal pinisi di Pantai Losari bukan hanya objek wisata.
Ia bisa menjadi ruang kebahagiaan, ruang silaturahmi, dan ruang lahirnya gagasan.
Kolaborasi antara masyarakat dan Pemerintah Kota Makassar membuka akses yang lebih inklusif—bahwa wisata bukan hanya milik wisatawan, tapi juga milik warga.
Dan bagi KKBP, pelayaran singkat ini akan selalu diingat sebagai:
perjalanan yang sederhana, tapi penuh makna.
