Pemkot Makassar Perketat Seleksi Imam, Munafri Arifuddin Tegaskan Integritas dan Peran Sosial
METROMAKASSAR, 7 Mei 2026 – Pemerintah Kota Makassar menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan imam kelurahan yang berkualitas melalui proses seleksi yang ketat, objektif, dan berintegritas.

Komitmen tersebut ditegaskan langsung oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, saat membuka kegiatan Seleksi Calon Imam Kelurahan Kota Makassar Tahun 2026 yang digelar oleh Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) di Kantor Wali Kota Makassar, Rabu (6/5/2026).
Dalam sambutannya, wali kota yang akrab disapa Appi itu menekankan bahwa standar seorang imam tidak bisa ditawar, khususnya dalam kemampuan membaca Al-Qur’an yang menjadi syarat mutlak.
“Imam harus memiliki kapasitas keagamaan yang kuat. Kemampuan membaca Al-Qur’an adalah dasar yang tidak bisa dikompromikan,” tegasnya.
Selain kompetensi keagamaan, ia juga menggarisbawahi pentingnya sikap toleransi di tengah masyarakat Kota Makassar yang majemuk. Menurutnya, imam tidak hanya berperan sebagai pemimpin ibadah, tetapi juga sebagai figur sosial yang mampu menjadi penyejuk di tengah keberagaman.

“Kita hidup di tengah masyarakat yang heterogen. Imam harus hadir sebagai penyejuk dan pemersatu,” ujarnya.
Lebih jauh, Appi menekankan bahwa peran imam sangat strategis dan tidak terbatas pada memimpin salat lima waktu. Ia menginginkan masjid dapat berfungsi sebagai pusat pembinaan umat, ruang musyawarah sosial, hingga wadah pembentukan generasi muda Qur’ani.
“Ketika persoalan masyarakat dibawa ke masjid, di situlah seharusnya masalah itu selesai. Ini fungsi sentral imam,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Kota Makassar tidak ingin lagi menerima keluhan masyarakat terkait kinerja imam. Karena itu, proses seleksi harus benar-benar menghasilkan sosok yang memiliki moral, integritas, serta visi dalam membangun umat.
Tak hanya itu, kemampuan manajerial juga menjadi perhatian. Menurutnya, imam adalah pemimpin yang harus mampu mengelola organisasi masjid secara efektif bersama pengurus.
“Kalau kita bicara imam, kita bicara pemimpin. Kalau pemimpin, kita bicara manajemen. Ujungnya adalah outcome dari aktivitas masjid itu sendiri,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Appi juga mengingatkan seluruh peserta untuk menjaga sportivitas selama proses seleksi berlangsung serta menghindari narasi negatif bagi yang tidak lolos.
“Namanya seleksi, pasti ada yang lulus dan tidak. Tapi jangan yang tidak lulus justru memberi sinyal negatif. Kita butuh kekompakan untuk membangun masjid yang berkualitas,” katanya.

Kepada panitia pelaksana, ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan berharap seluruh tahapan seleksi berjalan transparan serta akuntabel.Secara khusus, ia juga memberikan peringatan tegas kepada para penguji agar menjaga integritas dalam proses seleksi.
“Pastikan yang lulus adalah yang benar-benar mampu, bukan karena kedekatan, hubungan, atau titipan,” tegasnya.
Adapun pada seleksi tahun ini, sebanyak 140 peserta dari 103 kelurahan mengikuti tahapan seleksi yang meliputi administrasi, tes tertulis, wawancara, serta kemampuan baca tulis Al-Qur’an.
Dari jumlah tersebut, hanya 103 orang yang akan diterima sebagai imam kelurahan untuk periode 2026–2029.Seleksi ini menjadi langkah strategis Pemerintah Kota Makassar dalam memperkuat peran keagamaan di tengah masyarakat.
Imam diharapkan tidak hanya menjadi pemimpin ibadah, tetapi juga teladan sosial, pembimbing umat, serta penjaga nilai-nilai moral dan spiritual di lingkungannya.“Jadikan momentum ini sebagai sarana untuk mengabdi kepada masyarakat dan mendekatkan diri kepada Allah,” tutupnya. (*)