Opini

Pilah Sampah Cara Baru Merawat Makassar

Opini Oleh: Barly RM

METROMAKASSAR.com, Makassar – Seringkali kita menganggap sampah sebagai sesuatu yang menjengkelkan dan harus segera disingkirkan. Namun, ketika kita mulai membiasakan memilahnya dari dalam rumah — memisahkan organik dan anorganik — sesuatu yang lebih besar sedang terjadi:

cara pandang kita terhadap lingkungan perlahan berubah. Rasa tanggung jawab itu tumbuh bukan karena paksaan, tapi karena kesadaran bahwa setiap bungkus plastik atau sisa makanan memiliki nilai dan dampak.

Inilah inti dari program pemilahan sampah dari sumber yang diterapkan Pemerintah Kota Makassar mulai 1 Agustus 2026. Bagi saya, ini bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan transformasi budaya.

Tiga Perubahan Fundamental di Tingkat Rumah Tangga

Berdasarkan pengamatan di lapangan, pemilahan sampah memicu tiga perubahan mendasar pada warga:

Pertama, kata Barly, Rasa Kepemilikan. Warga yang rutin menyortir sampah di dapur atau teras rumah secara alami menjadi lebih menghargai kebersihan lingkungannya. Mereka tidak lagi merasa “bukan urusan saya” saat melihat tumpukan sampah di selokan depan rumah.

Lebih dari itu, mereka sadar bahwa pemilahan yang rapi juga membantu para pemulung yang bergantung pada bahan daur ulang untuk bertahan hidup.

Kedua, Kesadaran Nilai Ekonomi. Sampah plastik dan kertas kini tidak lagi dilihat sebagai barang buangan, melainkan sebagai komoditas. Banyak komunitas dan individu kreatif, atau bank Sampah di setiap Kelurahan yang membutuhkan bahan-bahan ini untuk kerajinan tangan, cenderamata, hingga usaha kecil.

Pemilahan yang benar berarti membuka peluang ekonomi sirkular di tingkat RT/RW.

Ketiga, Efek Psikologis Positif. Setelah berinvestasi waktu dan tenaga memilah di rumah, membuang sampah sembarangan akan terasa “salah” secara moral. Ini menciptakan disiplin internal keluarga yang jauh lebih kuat daripada sanksi eksternal.

Anak-anak pun belajar tanggung jawab melalui contoh nyata orang tua mereka.

Menjawab Keresahan: Jangan Sampai Ambigu Picu Illegal Dumping

️Saya memahami bahwa menjelang berlakunya kebijakan 1 Agustus 2026, muncul polemik dan keresahan di tengah masyarakat.

Informasi yang beredar di media sosial terkadang ambigu:Apakah sampah organik dan anorganik tidak akan diangkut sama sekali? “ Pertanyaan ini wajar, terutama bagi warga yang belum siap dengan wadah pemilahan di rumah.

Namun, saya ingin menegaskan: masyarakat Makassar pada dasarnya mendukung program ini. Yang kami khawatirkan bukanlah penolakan, melainkan kesalahpahaman yang berpotensi memicu illegal dumping.

Kita tidak ingin warga, karena bingung atau frustrasi, justru membuang sampah ke tanah kosong, sungai, kanal, atau sudut jalan. Itu akan merusak esensi program dan mencoreng citra kota.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman, telah memberikan kepastian penting pada Jumat (31/7/2026): ” Pemkot memberi waktu tiga bulan masa transisi sebelum menerapkan sanksi.” Ini adalah ruang bernapas yang sangat dihargai. Selama periode ini, fokus utamanya adalah edukasi, bukan hukuman.

Kunci Sukses Ada di Tangan Camat, Lurah, dan Tokoh Masyarakat

Kebijakan sehebat apa pun akan gagal jika tidak sampai ke level rumah tangga dengan bahasa yang tepat. Di sinilah peran Camat, Lurah, Ketua RT/RW, tokoh masyarakat, dan petugas kebersihan menjadi garda terdepan.

Mereka bukan sekadar penyampai informasi, tapi penerjemah kebijakan. Tugas mereka adalah memastikan warga paham bahwa:

  • Surat edaran dari pemerintah pusat dan Pemkot sudah jelas mengenai jenis sampah residu vs. yang harus dipilah.
  • Instruksi Wali Kota Makassar Nomor 3 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber adalah panduan, bukan ancaman.
  • Masa transisi tiga bulan adalah kesempatan emas untuk beradaptasi, bukan tenggat waktu untuk panik.

Edukasi harus dilakukan door-to-door, lewat pengajian, arisan PKK, hingga grup WhatsApp warga. Gunakan bahasa yang manusiawi, tunjukkan contoh nyata, dan dengarkan keluhan mereka. Ketika warga merasa didengar dan dibimbing, kepatuhan akan lahir dari kesadaran, bukan ketakutan.

Menuju Makassar yang Lebih Bersih dan Mulia

Program pilah sampah dari sumber adalah investasi jangka panjang untuk peradaban kota. Ia mengajarkan kita bahwa kebersihan bukan tanggung jawab pemerintah semata, tapi warisan bersama yang dimulai dari keputusan kecil di dapur masing-masing.

Mari kita gunakan masa transisi ini dengan bijak. Dukung camat, lurah, dan tokoh masyarakat di lingkungan kita.

Tanyakan jika belum paham. Bantu tetangga yang kesulitan menyediakan wadah pemilahan. Karena pada akhirnya, tujuan kita satu: Makassar yang bersih, sehat, dan bangga dengan warganya sendiri.

Selamat memulai kebiasaan baru. Langkah kecilmu hari ini adalah wajah Makassar di masa depan.