Gen Z Makassar Mulai Jauh dari Literasi Budaya, Barly RM Soroti Hilangnya Pemahaman Sejarah Lokal

Digitalisasi Dinilai Mengubah Pola Literasi Anak Muda
METRO MAKASSAR.com — Menurunnya minat literasi di kalangan generasi muda, khususnya Gen Z di Kota Makassar, mulai menjadi perhatian serius berbagai kalangan. Arus digitalisasi yang semakin masif dinilai membuat generasi muda lebih akrab dengan konten singkat media sosial dibandingkan membaca dan memahami sejarah serta budaya daerahnya sendiri.
Barly RM: Generasi Z Mulai Asing dengan Sejarah Bugis-Makassar
Pemerhati kebijakan publik Kota Makassar, Barly RM, menilai fenomena tersebut perlahan mengikis pemahaman generasi muda terhadap identitas budaya Bugis-Makassar.
Dalam sebuah diskusi bertema “Hilangnya Budaya Literasi oleh Kemajuan Digitalisasi di Kota Makassar”, Barly RM menyampaikan bahwa banyak anak muda saat ini tidak lagi mengenal sejarah dan cerita rakyat yang menjadi bagian penting peradaban Sulawesi Selatan.

“Generasi Z sebagian besar di Makassar tidak pernah lagi tahu tentang sejarah-sejarah Kota Makassar, tentang legenda Tumanurung, bagaimana cerita I La Galigo. Padahal cerita itu bagian dari budaya Bugis-Makassar, namun hampir tidak pernah hadir lagi dalam ruang-ruang diskusi generasi muda,” ungkap Barly RM.
Budaya Membaca Dinilai Lebih Membentuk Cara Berpikir
Menurutnya, budaya membaca memiliki dampak yang jauh lebih mendalam dibanding hanya mengonsumsi konten digital secara cepat. Literasi dinilai mampu membangun daya pikir kritis, pemahaman sejarah, hingga kecintaan terhadap identitas daerah.
KORMI Dorong Ruang Kreatif Berbasis Budaya Lokal
Barly RM yang juga aktif di KORMI Kota Makassar selaku Ketua Komisi OTKB (Olahraga Tradisional dan Kreasi Budaya) mengajak seluruh elemen masyarakat, komunitas, akademisi hingga pemerintah daerah untuk menghadirkan lebih banyak ruang kreatif berbasis budaya lokal.

Pelestarian Budaya Harus Masuk ke Ruang Anak Muda
Ia menilai pelestarian budaya Bugis-Makassar tidak cukup hanya melalui seremoni, tetapi harus masuk ke ruang keseharian anak muda melalui kegiatan literasi, festival budaya, diskusi publik, pertunjukan seni tradisional, hingga pemanfaatan platform digital yang lebih edukatif.
“Budaya lokal harus dikemas dengan cara yang dekat dengan generasi sekarang. Jika tidak diperkenalkan sejak dini, maka perlahan identitas budaya kita bisa hilang ditelan perkembangan zaman,” tambahnya.
Harapan untuk Pemerintah dan Komunitas Kreatif Makassar
Barly RM berharap Pemerintah Kota Makassar bersama komunitas kreatif dapat lebih aktif mendorong program literasi budaya agar generasi muda tidak kehilangan akar sejarah dan nilai-nilai tradisi Sulawesi Selatan.