Ekspedisi OLALA II: Semangat Tak Pernah Tua Menembus Lintas Gunung Lompo Battang – Gunung Bawakaraeng
METROMAKASSAR – Waktu boleh berjalan, usia boleh bertambah, tapi semangat mencintai alam tak pernah mengenal kata usang. Itulah yang ditunjukkan Komunitas Petualang dan Pencinta Alam Sulawesi Selatan (KAPPA Sulsel) yang kembali menggagas Ekspedisi OLALA II, sebuah perjalanan lintas gunung dari Gunung Lompo Battang menuju Gunung Bawakaraeng.

Dua dekade sudah KAPPA Sulsel berdiri dan tetap konsisten menanamkan nilai-nilai kecintaan terhadap alam. Dari kegiatan bakti sosial di pesisir, penanaman mangrove, hingga penghijauan di kawasan pegunungan, komunitas ini terus bergerak tanpa henti—tanpa sekat, tanpa struktur formal yang kaku.

Dengan mengusung slogan “Bersaudara walau tidak sedarah”, KAPPA Sulsel menjadi ruang bertemunya berbagai elemen: Kelompok Pecinta Alam (KPA), Mapala, hingga lembaga lingkungan hidup yang mayoritas berbasis di Makassar.

Mereka dipersatukan oleh satu hal: panggilan jiwa untuk menjaga alam.
“Ekspedisi OLALA I itu tahun 2015. Sudah sebelas tahun berlalu. Insya Allah, kami akan kembali melakukan Ekspedisi OLALA II dengan lintas Gunung Lompo Battang – Gunung Bawakaraeng,” ujar Erick Te’ne saat ditemui di sebuah warkop di Jalan Amirullah, Makassar.
Namun ekspedisi kali ini bukan tanpa tantangan. Erick mengungkapkan bahwa sebagian besar peserta kini telah memasuki usia 60 tahun. Kondisi tersebut membuat persiapan fisik menjadi hal yang sangat krusial.
“Ini memang tidak mudah. Rata-rata peserta sudah berusia 60-an tahun. Jadi persiapan fisik harus benar-benar matang,” tambahnya.
Sebagai kilas balik, Ekspedisi OLALA I yang digelar pada 2015 menjadi tonggak perjalanan komunitas ini dalam menjelajah alam, dengan fokus pendakian di kawasan Gunung Bawakaraeng yang berada di dataran tinggi Malino, Kabupaten Gowa.
Barly sebagai supporting team mengatakan,
“OLALA II bukan sekadar perjalanan fisik menembus jalur pegunungan, melainkan simbol bahwa semangat petualangan dan cinta alam tidak pernah lekang oleh waktu. Di tengah usia yang tak lagi muda, mereka justru menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bergerak.” Tutur Barly

” Ekspedisi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda—bahwa alam bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga dijaga dan diwariskan.
Sebab pada akhirnya, gunung bukan sekadar tempat untuk didaki, melainkan ruang untuk belajar tentang ketahanan, kebersamaan, dan makna kehidupan.” Tutup Barly
Karena mereka percaya, selama kaki masih bisa melangkah, alam akan selalu memanggil pulang.