MakassarPolitik

Jelang Musda XI Golkar Sulsel, Barly RM: Sikap Tenang Munafri Arifuddin Jadi Pesan Moral bagi Kader

Keberangkatan umrah dinilai sebagai wujud ketenangan dan kedewasaan politik, bukan sinyal meninggalkan Partai Golkar.

METROMAKASSAR,comMakassar,16 /7/ 2026 Menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan di Makassar, dinamika politik internal partai terus menjadi perhatian publik. Seiring menguatnya proses administrasi dan mekanisme organisasi yang berjalan, berbagai pandangan turut bermunculan terkait arah kontestasi kepemimpinan di tubuh Partai Golkar Sulsel.

Di tengah dinamika tersebut, keberangkatan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin atau yang akrab disapa Appi, untuk menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci memunculkan beragam penafsiran di ruang publik. Namun, bagi sebagian kader, langkah tersebut tidak sepatutnya dimaknai sebagai bentuk kekecewaan ataupun sikap menjauh dari Partai Golkar.

Kader Partai Golkar, Barly RM, menilai sikap tenang yang ditunjukkan Munafri Arifuddin justru mencerminkan kedewasaan dalam berpolitik dan menjadi pesan moral bagi seluruh kader untuk tetap menjaga soliditas organisasi.

“Di tingkat akar rumput, khususnya di Kota Makassar, ketenangan yang diperlihatkan Appi harus dimaknai sebagai ajakan untuk tetap mengonsolidasikan barisan, bukan menjadi alasan bagi kader untuk tercerai-berai atau mencari jalan masing-masing. Pergantian kepemimpinan di tingkat provinsi merupakan bagian dari dinamika organisasi yang harus dihormati,” ujar Barly.

Menurutnya, perjalanan politik Munafri Arifuddin telah memberikan banyak pelajaran tentang arti konsistensi dan keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan.

Barly mengingat kembali perjuangan Appi sejak mengikuti Pemilihan Wali Kota Makassar pada periode 2017–2018. Saat itu, pasangan yang diusung harus menerima kekalahan dari kotak kosong. Meski demikian, perjuangan politik tidak berhenti. Appi kembali bertarung pada Pilwali 2020 dan kembali belum memperoleh kemenangan.

“Perjalanan itu menunjukkan bahwa kegagalan bukan akhir dari perjuangan. Ada pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga. Setelah melalui berbagai proses dan pembelajaran, pada Pilwali 2024 Appi akhirnya memperoleh kepercayaan masyarakat dan dilantik sebagai Wali Kota Makassar periode 2024–2029,” kata Barly.

Ia menambahkan, dinamika politik selalu berubah mengikuti perkembangan waktu. Karena itu, kepemimpinan yang kuat tidak lahir secara instan, melainkan dibangun melalui proses panjang, pengalaman, dan konsistensi.

“Politik tidak pernah bersifat permanen. Semua bergerak dinamis. Kepemimpinan yang berkualitas lahir dari proses yang panjang, bukan dari fasilitas yang serba instan. Hal itu telah dibuktikan Appi, baik saat memimpin DPD Partai Golkar Kota Makassar maupun ketika dipercaya memimpin Kota Makassar,” ujarnya.

Di akhir keterangannya, Barly menegaskan bahwa setiap pemimpin memiliki karakter yang berbeda dalam menyikapi dinamika politik.

“Memilih tetap tenang, menjaga komitmen sebagai kader, dan tidak merespons dinamika dengan konfrontasi merupakan bentuk komunikasi politik yang dewasa. Sikap seperti itu menunjukkan bahwa kepentingan organisasi ditempatkan di atas kepentingan pribadi,” tutup Barly RM.