BudayaPariwisataSulsel

Merawat Rindu, Membangun Negeri: Gelaran ‘Mamali Kampong’ KKBP Guncang Bumi Massenrempulu

Metromakassar.com, ENREKANG — Rindu yang membara di tanah perantauan akhirnya menjelma menjadi gerakan nyata. Panggilan darah yang tak pernah luntur oleh kerasnya kehidupan di luar daerah, kini berhimpun dalam satu langkah pasti untuk membangun kampung halaman.

Kerukunan Keluarga Bassaran Pasadanan (KKBP), paguyuban yang menaungi warga asal Desa Buntu Batuan dan Desa Rante Mario yang kini berdiaspora di luar Kabupaten Enrekang, sukses menggelar program Mamali Kampong (Rindu Kampung). Perhelatan akbar yang berlangsung selama tiga hari, 4 hingga 6 September 2026, ini bukan sekadar ajang nostalgia, melainkan momentum kebangkitan budaya dan ekonomi desa.

Tiga hari penuh makna dihelat dengan serangkaian kegiatan yang humanis dan sarat nilai kekeluargaan. Rangkaian acara dimulai dari camping keluarga yang menghangatkan suasana di Dusun Paredean, Desa Buntu Batuan.

Suasana keakraban kian pecah pada malam hari melalui lomba domino dan tradisi Sambung Tulang—sebuah simbol penguatan ikatan keluarga lintas generasi. Puncak euforia terjadi pada hari terakhir, Minggu (6/9), saat ratusan peserta dan warga berbaur dalam lomba memancing dan menangkap ikan di Embung Mentia.

Ziarah Batin ke Puncak Lalono

Salah satu agenda paling menyita perhatian adalah napak tilas ke situs Istana Nene Matindo Dama di Puncak Gunung Lalono, Desa Rante Mario. Dalam naskah kuno Lontara’ Duri, Nene Matindo Dama adalah tokoh legendaris yang kisahnya menjadi cikal bakal berdirinya Federasi Tallu Batu Papan di Tana Duri.

Perjalanan menuju puncak yang berada di pintu gerbang Pegunungan Latimojong ini bukan sekadar pendakian fisik, melainkan ziarah batin.

Peserta diajak mengenali fondasi peradaban dan nilai kearifan lokal leluhur Massenrempulu, di tengah pesona alam yang menghadap langsung ke salah satu dari tujuh puncak tertinggi di Indonesia tersebut.

Gelaran ini menarik minat ratusan diaspora KKBP yang datang dari berbagai penjuru Sulawesi Selatan, seperti Makassar, Parepare, Pangkajene Kepulauan, Pinrang, Maros, dan Soppeng.

Kehadiran mereka disambut bak tamu agung, sekaligus disambut erat sebagai saudara yang kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Acara ini turut dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, di antaranya Ketua Umum Himpunan Keluarga Massenrempulu (HIKMA) Sulsel, Ir. A. Muh. Ansar Mangopo, M.Si. Turut hadir pula jajaran pengurus dan akademisi, seperti Prof. Dr. Ir. Rahman Djamaluddin, M.T., Dr. Jamaluddin Jahid Haneng, S.T., M.Si., Syamsul Bahry, S.P., Sainuddin Lawang, S.H., Jumadil Rahmat, S.T., serta Dr. Siswanto Rawali, S.Sos., M.Si. dari HIKMA Kalimantan Selatan yang juga Dosen Universitas Lambung Mangkurat.

Komitmen Nyata dan Konsep TANTERITA

Ketua Umum Pengurus Pusat KKBP, AKBP (Purn) Hj. Yusni Asmadi, S.H., M.H., tak kuasa menyembunyikan rasa harunya.

“Ini adalah momen yang sangat istimewa. Kami bisa pulang bersama, melepaskan rindu, dan mengenang jasa leluhur. Namun, lebih dari itu, kami ingin mengambil peran nyata dalam pembangunan kampung, terutama di sektor pertanian, peternakan, dan pariwisata. Ini adalah tanggung jawab moral kami,” ujarnya.

Komitman ini sejalan dengan konsep TANTERITA (Pertanian, Peternakan, dan Pariwisata) atau konsep 3P yang digagas oleh akademisi UIN Alauddin Makassar, Dr. Jamaluddin Jahid Haneng. Integrasi ketiga sektor ini diyakini mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan dan berkelanjutan bagi masyarakat lokal.

Sinergi Pemerintah dan Diaspora

Antusiasme masyarakat Desa Buntu Batuan dan Rante Mario terlihat dari gotong royong warga menyambut para perantau.

Ketua Panitia, Aiptu Bahar Sampe, S.Pd., menyatakan bahwa kegiatan ini adalah bukti cinta yang tak pernah pudar. “Kami berharap tahun depan kontribusi nyata bagi warga kampung akan semakin terasa,” harapnya.

See also  MIMPI YANG AKHIRNYA BERLAYAR: Warga KKBP Berlayar di Perahu Pinisi, Terima Kasih Walikota Makassar

Dukungan penuh juga datang dari Pemerintah Kabupaten Enrekang. Camat Malua, Arsjad Sudading, S.Sos., yang mewakili Bupati Enrekang, memberikan apresiasi setinggi-tingginya.

“Atas nama Pemkab Enrekang, kami berterima kasih atas kehadiran para diaspora yang selalu merindukan kampungnya. Ini adalah energi positif yang kami nantikan. Kami berharap Mamali Kampong tidak hanya jadi ajang temu kangen, tetapi motor penggerak percepatan pembangunan di Kecamatan Malua, khususnya pariwisata dan pemberdayaan ekonomi,” tegas Arsjad.

Di tengah gempuran modernisasi, semangat Mamali Kampong menjadi pengingat bahwa akar budaya adalah fondasi terkuat kemajuan. Rindu bukanlah kelemahan, melainkan energi untuk kembali, merajut asa, dan menjemput masa depan Bumi Massenrempulu yang lebih sejahtera. (djj )