Makassar

Pasca-Bentrokan di Daeng Tata III, Kantor Lurah Parang Tambung Kembali Buka dan Layani Warga

METROMAKASSAR.COM, Tamalate – Suasana di wilayah Kelurahan Parang Tambung, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, berangsur pulih pascabentrokan penolakan eksekusi lahan di Jalan Daeng Tata III, Kamis (10/9/2026) lalu.

Meski akses jalan utama menuju lokasi sengketa masih ditutup untuk kendaraan roda empat, pelayanan publik di Kantor Lurah Parangtambung dipastikan telah kembali beroperasi normal, Jumat (11/9/2026).

Lurah Parangtambung, Muh. Zulkifli Ghozali, memastikan bahwa roda pemerintahan dan pelayanan di tingkat kelurahan tidak terganggu oleh insiden keamanan yang terjadi sehari sebelumnya.

Aparatur kelurahan tetap bekerja untuk melayani kebutuhan administratif maupun program sosial bagi masyarakat.

Kami sudah buka kembali. Saat ini kami sedang melayani pembagian beras, dan pelayanan administrasi bagi warga Kelurahan Parangtambung sudah berjalan seperti biasa,” ujar Lurah Parangtambung, Muh. Zulkifli Ghozali, kepada awak media, Jumat (11/9/2026).

Keterbukaan pelayanan ini menjadi angin segar bagi warga, mengingat insiden kemarin sempat memicu ketegangan tinggi. Zulkifli mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan memanfaatkan pelayanan kelurahan yang sudah kembali dibuka.

Kondisi Lapangan dan Akses Jalan

Hingga Jumat siang, kondisi di sekitar Jalan Daeng Tata III, Kampung Cedde, masih dijaga ketat oleh warga.

Akses lalu lintas dari arah Jalan Abdul Kadir menuju Jalan Daeng Tata Raya masih ditutup untuk kendaraan roda empat.

Namun, sebagai jalan tengah, akses jalan kini sudah mulai dibuka dan hanya dapat dilalui oleh kendaraan roda dua.

Situasi di lapangan dilaporkan telah kondusif, tidak ada lagi aksi anarkis, meskipun warga masih mempertahankan posko penolakan di titik sengketa.

Kilas Balik Insiden

Sebagai informasi, upaya eksekusi lahan di kawasan radius 1.000 meter dari Rumah Seni Permanen, Jalan Daeng Tata III, Kampung Cedde, berubah menjadi ajang kekerasan pada Kamis pagi (10/9/2026).

See also  Ngopi Bareng 11 Pimlur Panakkukang: Bahas Pilah Sampah, Urban Farming, dan Ikrar "Dimana Appi, Kami di Situ"

Penolakan keras dari warga setempat memicu kericuhan massal. Situasi memanas sejak awal ketika aparat keamanan berusaha mengamankan area dan menerobos barikade yang didirikan warga.

Dalam insiden tersebut, sejumlah anggota kepolisian dilaporkan mengalami luka-luka akibat terjatuh dan terdesak oleh massa aksi.

Hingga berita ini diturunkan, aparat kepolisian dan tokoh masyarakat setempat terus melakukan pendekatan persuasif untuk meredam ketegangan dan mencari solusi damai atas sengketa lahan yang melibatkan warga Kampung Cedde tersebut. (vhia)