Makassar

Ketika Ibu-Ibu UMKM Makassar Berteman dengan AI: Kisah Transformasi Digital di Auditorium TP PKK

METROMAKASSAR.COM, 10–14 Agustus 2026 – Ada suasana berbeda yang terasa di Auditorium Gedung TP PKK Kota Makassar pekan ini. Bukan sekadar pelatihan teknis yang dingin, melainkan sebuah ruang belajar yang hangat, penuh tawa, dan momen “aha!” ketika puluhan ibu-ibu pelaku UMKM akhirnya menemukan teman baru dalam menjalankan usaha mereka: Kecerdasan Artifisial atau Artificial Intelligence (AI).

Program kerja Pokja II TP PKK Kota Makassar bertajuk

“Ibu Berdaya: Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial untuk UMKM Perempuan” bukan hanya tentang mengajarkan cara menggunakan alat canggih.

Lebih dari itu, ini adalah kisah tentang bagaimana teknologi didemistifikasi—dibuat ramah, dekat, dan benar-benar berguna bagi tangan-tangan terampil yang selama ini mungkin merasa asing dengan dunia digital.

Menepis Rasa Takut, Membangun Kepercayaan Diri

Bagi banyak ibu-ibu pelaku usaha, kata “AI” sempat terdengar menakutkan. Bayangan bahwa mesin akan menggantikan peran manusia, atau ketakutan tidak mampu mengoperasikan teknologi rumit, seringkali menjadi penghalang utama. Namun, melalui kolaborasi TP PKK Kota Makassar bersama BASAibu Wiki-Sulsel dan Lab Teknologi Fakultas Ilmu Pendidikan UNM, ketakutan itu perlahan luruh digantikan oleh rasa ingin tahu dan kepercayaan diri.

Sekretaris TP PKK Kota Makassar, Faridah Kadir, yang membacakan sambutan Ketua TP PKK Melinda Aksa Munafri, menegaskan pesan penting di awal kegiatan: “Kami ingin ibu-ibu tidak hanya mengenal AI, tetapi bisa langsung memanfaatkannya untuk usaha.

“Pesan ini diterjemahkan secara nyata di lapangan. Peserta tidak disuguhi teori yang membingungkan. Sebaliknya, mereka diajak memegang perangkat, mencoba sendiri, dan melihat bagaimana AI bisa membantu pekerjaan yang selama ini dianggap sulit—mulai dari mencari ide promosi, menulis caption yang menarik, hingga mendesain konten visual tanpa harus jago grafis.

Praktik Langsung: Kunci Perubahan Nyata

Dra. Andi Indrawaty dari Pokja II TP PKK Kota Makassar memahami betul karakter peserta. “Kalau hanya diberikan materi, mungkin ibu-ibu masih bingung. Jadi kita langsung praktik,” ujarnya.

Pendekatan inilah yang membuat pelatihan ini terasa seperti sebuah perjalanan penemuan. Hari demi hari, para ibu belajar menyusun prompt—instruksi khusus agar AI menghasilkan output yang diinginkan—di bawah bimbingan Maenuddin Bustanil Syah, S.Pd., M.Pd., Dosen Teknologi Pendidikan UNM.

Dari yang awalnya ragu-ragu mengetik perintah, kini mereka mulai lancar meminta AI membantu merancang strategi pemasaran, mengenali target pasar, bahkan mengembangkan narasi produk yang lebih menyentuh hati pelanggan.

“Jangan takut dengan AI. AI ini bukan untuk menggantikan ibu-ibu dalam berusaha, tetapi membantu ibu-ibu,” tegas Dra. Andi Indrawaty.

Kalimat ini seolah menjadi mantra yang menenangkan, mengingatkan bahwa teknologi adalah alat bantu, bukan pengganti kecerdasan dan kreativitas manusiawi yang sudah dimiliki para ibu.

Transformasi yang Terus Berlanjut

Pelatihan yang berlangsung lima hari ini dan ditayangkan langsung melalui YouTube TPFIPUNM bukan sekadar acara seremonial. Ia adalah titik awal dari sebuah perubahan pola pikir.

Para peserta pulang bukan hanya membawa sertifikat, tapi juga keyakinan bahwa mereka mampu bersaing di era ekonomi digital.Dengan kemampuan baru ini, diharapkan kualitas promosi UMKM perempuan Makassar akan meningkat, jangkauan pasar meluas, dan daya saing produk semakin kuat.

Yang terpenting, para ibu kini tahu bahwa mereka tidak sendirian menghadapi arus digitalisasi—ada TP PKK, ada komunitas, dan ada teknologi yang siap menjadi sahabat setia dalam perjalanan usaha mereka.

Kisah di Auditorium TP PKK Makassar ini membuktikan satu hal: ketika pendidikan digital disampaikan dengan empati, kesabaran, dan pendekatan yang manusiawi, transformasi bukan lagi mimpi. Ia menjadi kenyataan yang hidup dalam setiap klik, setiap prompt, dan setiap senyum kebanggaan para ibu-ibu UMKM yang kini truly berdaya.