BudayaOlahragaPariwisata

Taruhan Nyawa di Atap Dunia: Everest Kini Hanya untuk Pendaki Kaya yang Teruji

metromakassar.com, KATHMANDU — Impian menaklukkan puncak tertinggi di dunia, Gunung Everest, kini menjadi tantangan yang jauh lebih berat. Bukan hanya karena medan alamnya yang ekstrem, tetapi juga karena syarat keselamatan yang diperketat serta lonjakan biaya yang sangat drastis.

Pemerintah Nepal secara resmi memberlakukan aturan baru yang menyasar dua isu krusial di Everest: keselamatan nyawa pendaki dan biaya ekspedisi yang kian melambung tinggi.

Langkah tegas ini diambil setelah Everest mencatatkan rekor musim tersibuk dalam sejarah dengan diterbitkannya 494 izin pendakian pada musim semi.

Kepadatan jalur yang ekstrem di “Zona Kematian” (Death Zone) memicu kekhawatiran besar atas keselamatan para pendaki amatir yang hanya bermodal uang tanpa pengalaman mumpuni.

Taruhan Nyawa: Syarat Pengalaman Minim 7.000 Meter

Demi menekan angka kecelakaan, draf RUU Pariwisata (Tourism Bill) yang baru saja lolos di Majelis Tinggi (National Assembly) Parlemen Nepal menetapkan syarat yang sangat ketat. Pendaki asing kini dilarang keras membeli izin Everest jika belum pernah mendaki minimal satu gunung setinggi 7.000 meter di wilayah Nepal. Aturan ini otomatis menyaring pendaki pemula yang belum siap mental dan fisik.

Selain itu, sistem pendakian tunggal atau solo resmi dihapus. Kini, setiap dua orang pendaki diwajibkan menyewa minimal satu pemandu lokal (Sherpa). Pemeriksaan kesehatan juga tidak bisa lagi menggunakan surat dokter dari negara asal secara sembarangan.

Calon pendaki wajib menjalani tes medis ketat di lembaga kesehatan yang ditunjuk langsung oleh pemerintah Nepal saat tiba di Kathmandu.

Anggaran Membengkak: Siapkan Dana Miliaran Rupiah

Bagi yang memenuhi syarat fisik, tantangan berikutnya adalah isi dompet. Pemerintah Nepal menaikkan tarif izin mendaki standar (Royalty Permit) pada musim semi dari yang semula US$ 11.000 menjadi US$ 15.000 (sekitar Rp264,5 juta) per orang.

See also  Suara 'Bannang Eja' Telah Redup: Maestro Musik Makassar Murtini Suharto Tutup Usia

Jika dihitung secara keseluruhan, total biaya untuk satu kali misi ekspedisi ke atap dunia kini menyentuh angka yang fantastis.

Komponen biaya tersebut meliputi:

  • Izin Pemerintah: US$ 15.000 (Rp264,5 juta)
  • Logistik & Operator Lokal: US$ 30.000 – US$ 35.000 (Rp529 juta – Rp617 juta) untuk tenda dan makanan di Base Camp.
  • Sherpa Pribadi & Tabung Oksigen: US$ 10.000 – US$ 15.000 (Rp176 juta – Rp264 juta).
  • Jaminan Sampah & Asuransi: US$ 4.000 – US$ 6.000 (Rp70 juta – Rp105 juta).
  • Peralatan Eksklusif & Tiket Pesawat: US$ 5.000 – US$ 7.000 (Rp88 juta – Rp123 juta).

Dengan rincian tersebut, seorang pendaki setidaknya harus merogoh kocek antara US$ 64.000 hingga US$ 78.000, atau setara dengan Rp1,1 Miliar hingga Rp1,3 Miliar.

Mengubah Wajah Everest

Aturan baru ini juga mewajibkan setiap pendaki membawa kantong limbah (poop bags) untuk membawa turun kotoran mereka sendiri dari area puncak demi menjaga kelestarian lingkungan yang mulai rusak akibat tumpukan sampah.

Pemerintah Nepal menegaskan bahwa Everest tidak boleh lagi dipandang sebagai atraksi wisata komersial yang bisa dibeli oleh siapa saja.

Melalui kombinasi biaya tinggi dan seleksi ketat ini, Everest dikembalikan sebagai takdir tertinggi bagi para pendaki tangguh yang menghargai keselamatan diri dan kelestarian alam.(bly)