EkonomiMakassarNasional

Transaksi Hingga 5 Milliar: Makassar Buktikan Diri Tuan Rumah Dekranas-HKG PKK yang Mengguncang Ekonomi

METROMAKASSAR.com – Makassar, Antrean panjang di stan-stan pameran menjadi pemandangan dominan di Trans Studio Mall (TSM) Makassar sepanjang 8–12 Juli 2026. Bukan sekadar seremonial kenegaraan, penyelenggaraan Hari Ulang Tahun (HUT) Dekranas ke-46 dan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 kali ini benar-benar terasa sebagai pesta ekonomi raksasa yang menghidupkan denyut nadi Kota Daeng.

Bukti keberhasilannya tidak hanya terlihat dari keramaian pengunjung yang menembus 180 ribu orang selama empat hari pelaksanaan, tetapi juga dari angka transaksi yang mengalir deras. Hingga Sabtu (11/7/2026), total transaksi di seluruh stan telah menyentuh Rp4,1 miliar. Dengan sisa waktu hingga penutupan Minggu (12/7/2026), panitia optimistis angka final akan tembus Rp5 miliar.

Namun, dampak terbesar justru terasa di luar area pameran. Ketua PHRI Sulsel, Anggiat Sinaga, mengungkapkan fakta menarik: tingkat hunian hotel di Makassar melonjak drastis menjadi 85–90 persen, hampir dua kali lipat dari rata-rata harian yang biasanya hanya 40–45 persen. “Hampir semua hotel full booked. Event ini berhasil menghadirkan pemerataan okupansi yang jarang kami rasakan,” ujarnya.

Ketika dikalikan dengan efek berganda pada sektor transportasi, kuliner, dan jasa wisata, perputaran ekonomi yang dihasilkan dari event nasional ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp100 miliar. Sebuah angka yang membuktikan bahwa Makassar mampu mengubah momentum budaya menjadi instrumen penggerak ekonomi yang nyata.

Booth Dekranasda Jadi Magnet Pengunjung

Di tengah ratusan stan peserta dari seluruh Indonesia, booth Dekranasda Kota Makassar tampil mencuri perhatian. Di sini, identitas lokal dipamerkan dengan bangga: mulai dari kain tenun Lagosi, baju bodo, tas anyaman, hingga minyak gosok tradisional khas Makassar yang laris manis diborong pengunjung.

Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda Kota Makassar, Melinda Aksa, hadir langsung memantau aktivitas tersebut. Bagi istri Wali Kota ini, euforia pasar saat event berlangsung hanyalah permulaan. Pekerjaan sesungguhnya, menurutnya, baru dimulai setelah bendera penutupan dikibarkan.

“Kita harus terus menggali potensi produk lokal dan memperkuat pembinaan agar mereka tidak hanya ramai saat ada event, tapi tetap kompetitif di hari biasa,” tegas Melinda usai menghadiri upacara penutupan di TSM Makassar, Minggu (12/7/2026).

Salah satu terobosan konkret yang segera direalisasikan adalah program pelatihan penenun baru bekerja sama dengan Cita Tenun Indonesia (CTI). Targetnya ambisius namun strategis: melahirkan 20 penenun profesional dalam setahun yang mampu menciptakan motif tenun khas Makassar. Selama ini, sentra tenun Sulsel memang didominasi Wajo dan Bulukumba; kini giliran Kota Daeng yang ingin menulis sejarahnya sendiri lewat wastra.

“Pelatihan akan dimulai Agustus-September 2026. Kami masih mencari calon peserta yang punya dasar menenun. Harapannya, mereka bisa menjadi generasi penenun baru yang memperkuat identitas wastra Makassar,” jelas Melinda.

Panggung Kolaborasi Nusantara

Sukses acara ini tentu bukan kerja tunggal. Sukarniaty Kondolele, Ketua Panitia Harian HUT Dekranas ke-46 yang juga perwakilan provinsi, menekankan bahwa event ini adalah panggung kolaborasi. Sebanyak 203 stan dari berbagai daerah berjejaring, saling belajar, dan membuka akses pasar baru.

“Antusiasme masyarakat luar biasa. Puncaknya saat HUT Dekranas, pengunjung tembus 80 ribu orang dalam sehari. Ini menunjukkan kepercayaan publik terhadap kemampuan Makassar menyelenggarakan event berskala nasional,” ungkap Sukarniaty.

Dari sisi transaksi, produk UMKM Sulsel juga tak kalah gagah. Stan-stan asal Sulawesi Selatan mencatatkan transaksi Rp1,01 miliar atau 24,3% dari total nasional. Angka ini menjadi validasi bahwa kerajinan lokal Sulsel memiliki daya saing yang mumpuni di hadapan pembeli dari Sabang sampai Merauke.

Tak hanya di TSM, geliat ekonomi juga terasa di Lapangan Hasanuddin lewat Festival Kuliner “Satu Kota 1000 Rasa”. Sebanyak 115 pelaku UMKM kuliner lokal memanjakan lidah ribuan pengunjung, sekaligus menjadi etalase promosi rasa nusantara yang autentik.

Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan ini secara tertib, aman, dan lancar, Makassar telah menorehkan catatan penting: kota ini bukan sekadar tempat singgah, melainkan tuan rumah yang mampu mentransformasi event kebudayaan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (*)