SATU BUMI, SATU PERJUANGAN



MAKASSAR, 19 September 2026 — Momentum World Cleanup Day (WCD) 2026 yang jatuh pada hari ini menjadi pengingat keras bahwa kesalehan ritual di rumah ibadah harus bertransformasi menjadi tanggung jawab ekologis yang nyata.
Hal ini ditegaskan oleh Mashud Azikin, Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, yang menyoroti adanya diskoneksi antara praktik keagamaan dan kepedulian terhadap krisis lingkungan di kota ini.
Paradoks Kesalehan Ritual
Mashud menyoroti ironi di mana rumah ibadah dijaga kebersihannya dengan ketat, namun kanal-kanal di Makassar masih dipenuhi sampah dan limbah.
Ia menegaskan bahwa krisis ekologis tidak mengenal batas identitas agama; air limbah dan polusi udara tidak membedakan siapa yang terdampak.
Oleh karena itu, agama dipanggil bukan sekadar untuk berkhotbah tentang kebersihan, melainkan untuk mengoreksi cara manusia memperlakukan alam yang selama ini hanya dianggap sebagai gudang bahan baku dan tempat pembuangan.
Titik Temu Teologis Lintas Iman
Dalam pandangannya, berbagai tradisi agama memiliki mandat yang sama untuk menjaga bumi. Konsep khalifah dalam Islam menekankan tanggung jawab mencegah kerusakan, bukan eksploitasi.
Sementara itu, tradisi Kristen dan Katolik mengenal stewardship (penjagaan ciptaan) sebagaimana digaungkan dalam Laudato Si’, Hindu dengan Tri Hita Karana, Buddha dengan welas asih, serta Konghucu dengan keharmonisan.
Perbedaan teologis ini tidak perlu dihapus, melainkan dijadikan fondasi dialog lintas iman untuk aksi penyelamatan lingkungan yang konkret.
Dari Refleksi Menuju Ekoreligi
Lebih jauh, Mashud mendorong pergeseran dari sekadar ekoteologi (refleksi ajaran) menuju ekoreligi (praktik kehidupan).
Ia menilai bahwa rumah ibadah dan komunitas agama tidak boleh hanya berhenti pada pemasangan slogan atau kegiatan bersih-bersih seremonial setahun sekali.
Kesalehan ekologis harus diwujudkan melalui kebiasaan yang tak selalu spektakuler, seperti pemilahan sampah organik, pengelolaan bank sampah berbasis komunitas, penghematan air, hingga pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
Menyongsong target Makassar Bebas Sampah 2029, Mashud mengingatkan bahwa slogan kebersihan harus bertransformasi menjadi sistem tata kelola dari hulu ke hilir.
Forum lintas iman didesak untuk tidak lagi sekadar menjadi simbol kerukunan pasif, melainkan turun langsung mengawal isu lingkungan seperti pencemaran sungai dan edukasi masyarakat.
Namun, ia juga menegaskan bahwa peran masyarakat dan agama tidak boleh dijadikan alasan bagi pemerintah untuk lepas tangan dari kewajiban menyediakan infrastruktur dan regulasi persampahan yang memadai.
Menjamin Keadilan Ekologis
Aspek keadilan ekologis menjadi sorotan penting dalam rilis ini. Mashud mengingatkan agar beban pengelolaan sampah tidak dibebankan secara sepihak kepada masyarakat, terutama kelompok rentan.
Para pemulung dan pekerja informal di sektor sampah harus diakui peranannya dalam pemulihan material dan dilindungi mata pencahariannya melalui kebijakan yang berpihak.
Suara moral agama, menurutnya, harus bertransformasi menjadi keberanian untuk mengkritik kebijakan yang menghasilkan ketimpangan ekologis.
Evaluasi Kritis World Cleanup Day
Terkait pelaksanaan WCD 2026 di Makassar yang melibatkan kolaborasi lintas komunitas, Mashud memberikan apresiasi namun sekaligus mengajukan pertanyaan kritis:
apa yang berubah pada hari berikutnya? Ia memperingatkan agar aksi bersih-bersih tidak terjebak menjadi ritual tahunan yang hanya menutupi kegagalan sistem.
Gerakan lingkungan harus memiliki indikator yang jelas, pembagian tanggung jawab, dan evaluasi berkelanjutan, bukan sekadar panggung seremonial.
Warisan untuk Generasi Mendatang
Pada akhirnya, Mashud menutup pandangannya dengan menegaskan bahwa merawat bumi adalah amanah moral dan spiritual yang melampaui batas iman.
Kesalehan sejati di Makassar bukanlah mereka yang pandai mengucapkan cinta pada alam, melainkan mereka yang bersedia mengubah kebiasaan, mengawasi kekuasaan, dan bekerja keras demi mewariskan ruang hidup yang adil dan layak bagi generasi mendatang.
Tentang Penulis:
Mashud Azikin adalah Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar. Pandangan ini disampaikan sebagai refleksi kritis memperingati World Cleanup Day 2026.